Berita Buleleng
Masyarakat Diimbau Tampung Air Hujan Antisipasi Puncak Kemarau
Dua hari belakangan ini sejumlah wilayah di Buleleng diguyur hujan. Namun demikian, musim kemarau diprediksi masih akan tetap terjadi
Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani | Editor: Fenty Lilian Ariani
TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Dua hari belakangan ini sejumlah wilayah di Buleleng diguyur hujan. Namun demikian, musim kemarau diprediksi masih akan tetap terjadi yang puncaknya diperkirakan terjadi pada Agustus mendatang.
Kepala Pelaksana BPBD Buleleng, Putu Ariadi pada Minggu (2/7) mengatakan, hujan di sela-sela musim kemarau wajar terjadi.
Ia pun mengimbau kepada masyarakat untuk memanfaatkan situasi ini dengan menampung air hujan sebelum puncak kemarau tiba, untuk meminimalisir terjadinya krisis air bersih.
Sejak dua hari diguyur hujan, Ariadi menyebut tidak ada laporan bencana seperti longsor, banjir maupun pohon tumbang.
Namun demikian, ia mengimbau kepada masyarakat agar tetap waspada dan selalu mengikuti informasi perkembangan cuaca yang dirilis oleh BMKG.
"Potensi bencana akibat hujan ini tergantung intensitasnya. Sejauh ini hujan yang turun tidak terlalu lebat. Mudah-mudahan tidak sampai terjadi bencana. Sekarang masyarakat bisa menampung air hujan itu, untuk dimanfaatkan pada Agustus nanti yang diperkirakan sebagai puncak musim kemarau," terangnya.
Baca juga: Bursa Transfer Liga 1: Kalah di Laga Perdana, Bali United Rekrut 2 Pemain Lagi, 1 Dari Liga Malta?
Dikatakan Ariadi ada 28 desa yang berpotensi mengalami kekeringan. Puluhan desa itu tersebar di Kecamatan Tejakula, Sawan, Sukasada, Kubutambahan, Banjar, Busungbiu dan Gerokgak. (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.