Berita Gianyar

Minat Warga Gianyar Kerja ke Jepang Masih Minim

Setiap tahun, jumlah masyarakat di Kabupaten Gianyar, Bali yang bekerja keluar negeri relatif banyak.

Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Fenty Lilian Ariani
ist
Direktur LPK Mentari ASA Bali, I Nyoman Artawa Putra, 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Setiap tahun, jumlah masyarakat di Kabupaten Gianyar, Bali yang bekerja keluar negeri relatif banyak.

Bahkan saat pandemi covid-19, jumlah Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang terdata sebanyak 1.600an orang.

Meski demikian, minat mereka untuk mengais rejeki ke Jepang masih relatif minim.

Hal tersebut diungkapkan oleh Direktur LPK Mentari ASA Bali, I Nyoman Artawa Putra, Rabu 19 Juli 2023.

Artawa mengatakan, perusahaannya khusus bergerak menyalurkan PMI ke Jepang. Berdiri sejak 2022, hingga saat ini, pihaknya telah menyalurkan 50 orang PMI ke Jepang

"Dari sekian LPK Jepang yang ada di Gianyar. Semua terkendala kandidat yang mau belajar. Masyarakat Gianyar dominan mereka tertarik bekerja di kapal pesiar,"

"Setiap tahun saya mengirim 15-20 orang ke Jepang . Sekarang sudah hampir 50 orang. Dari total itu, jumlah warga Gianyar hanya 15 orang. Kebanyakan orang Bangli, Karangasem, dan Singaraja," ujar Artawa.

Artawa menjelaskan, pekerjaan yang biasanya dilakoni PMI yang dikirimnya ke Jepang adalah bekerja di pertanian, peternakan, pengolahan makanan, merawat lansia dan di bidang konstruksi atau di bagian pengelasan.

"Kita kebanyakan di pertanian, peternakan dan pengolahan makanan, merawat lansia, konstruksi pengelasan. Pekerjaan di pertaniannya seperti mencuci dan membungkus sayur atau buah. Di peternakan kebanyakan mengurus babi. Ini kotanya di Ibarakhi, Kochi dan Aichi. Juga ada di Nagoya dan Osaka untuk pekerjaan  pengolahan makanan dan perawat lansia," kata pria asal Desa Saba, Blahbatuh itu.

Baca juga: CPNS 2023: Jelang Dibukanya Rekrutmen CPNS 2023, Simak Perbedaan CPNS 2023 dan PPPK Berikut Ini


Terkait biaya keberangkatan, Artawa mengatakan, membutuhkan biaya sekitar Rp 35 juta.

Biaya tersebut sudah termasuk biaya pembuatan paspor, medical chek up, visa, tiket pulang pergi, dan sebagainya. Bahkan sudah termasuk BPJS Ketenagakerjaan.

"Rata-rata gaji per bulannya dari Rp 180 ribu sampai 220 ribu yen. Mereka yang bisa berangkat minimal usia 19 sampai 30 tahun," ujar Artawa. 

Meskipun kerja di Jepang cukup menjanjikan, Artawa menduga ada beberapa alasan warga Gianyar enggan memilih bekerja di Jepang, dan justru lebih memilih di kapal pesiar.

Salah satunya adalah durasi kerja di Jepang minimal 3 tahun.

"Orang Gianyar itu memang jarang mau merantau lama. Kalau di pesiar 8 bulan sudah bisa pulang, kalau di Jepang 3 tahun baru bisa. Selain itu, untuk bekerja di Jepang juga harus punya keahlian khusus. Kalau di pesiar, yang penting bisa bahasa Inggris sudah bisa," ujar mantan anggota DPRD Gianyar itu. (*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved