Berita Tabanan
Alas Kedaton Ditinggal Kelelawar dan Turis,15 Tahun Lalu Populer, Kini 150 Wisatawan Sehari
Koordinator Operasional Daya Tarik Wisata (DTW) Alas Kedaton, I Gusti Bagus Suryawan mengatakan, seperti kondisi objek lainnya
Penulis: I Made Ardhiangga Ismayana | Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
TRIBUN-BALI.COM - Objek wisata Alas Kedaton masih diminati wisatawan. Rata-rata per hari, destinasi wisata yang pernah populer 15 tahun lalu ini, dikunjungi 150 wisatawan baik domestik maupun mancanegara.
Koordinator Operasional Daya Tarik Wisata (DTW) Alas Kedaton, I Gusti Bagus Suryawan mengatakan, seperti kondisi objek lainnya, Alas Kedaton meredup saat pandemi lalu. Saat pelonggaran kegiatan, kunjungan paling banyak 15 wisatawan dalam sehari.
“Pada waktu itu kami sampai tidak mengenakan tiket ketika pengunjung datang. Jadi hanya sukarela dari pengunjung,” ucap Gusti Suryawan, Minggu (20/8).
Januari 2023, kunjungan ke destinasi yang berada di Desa Kukuh, Kecamatan Marga, Tabanan itu meningkat. Paling tinggi pada bulan Juni rata sampai Agustus. “Juni sampai Agustus itu yang ramai, didominasi asing,” ungkapnya.
Baca juga: 26 Persen Lagi Peken Megah Tuntas, Nanti Warga Bisa Urus Izin di Pasar Semarapura Klungkung
Baca juga: Pelaku Kabur Setelah Gagal Bongkar Mesin ATM, Suara Gerinda di Minimarket Pukul 05.00 Wita
Baca juga: Distan Minta Petani Tanam Umbi-umbian, Dampak El Nino Panjang, Ancaman Kekeringan Sawah

Gusti Suryawan mengatakan, pengelola mengenakan biaya tiket masuk untuk wisman asing dewasa Rp 30 ribu, sedangkan anak-anak Rp 20 ribu. Untuk domestik dewasa Rp 20 ribu dan anak-anak Rp 15 ribu.
Sesuai masukan guide dan rekanan, harga tiket masuk ke Alas Kedaton akan dinaikkan. Untuk wisman dewasa akan jadi ke Rp 50 ribu, dan anak-anak Rp 30 ribuan. Sedangkan domestik dewasa Rp 30 ribu dan anak-anak Rp 20 ribu.
“Ini kami sedang bahas. Kemungkinan naik tahun depan dan saat ini menghabiskan hingga akhir tahun. Tahun 2024 baru bisa kami realisasikan kenaikan harga tiket,” demikian kata dia.
Alas Kedaton terkenal objek wisata yang dihuni kelelawar berukuran jumbo. Kelelawar itu yang kini cukup susah untuk dijumpai karena habitat yang mulai bergeser. Kunjungan pun tidak seperti 10 atau 15 tahun lalu. Alas Kedaton saat itu adalah destinasi populer di Bali.
“Kalau menetap terus ada kemungkinan hutan gundul. Karena memang kelelawar dari kencing dan cengkeramannya itu merusak kulit kayu. Pohon yang ditinggali kelelawar pasti akan mati. Meskipun tidak dalam waktu yang singkat,” ungkapnya.
Kata dia, semua pohon bayur di Alas Kedaton sudah mati. Pohon bayur adalah rumah favorit kelelawar. “Cenderungnyaya mereka akan pergi lagi ke arah Batukaru. Karena memang di sana masih banyak habitat buat kelelawar,” jelasnya.
Ia menambahkan, untuk kebutuhan foto, masih ada 20 ekor kelelawar. Saat ini ia berupaya mengubah branding Alas Kedaton dengan konsep wisata alam dan spiritual. “Pengeluaran kami untuk makanan kera paling tidak per bulan Rp 15 juta. Itu untuk pembelian ketela dan jagung," kata dia.
"Terkadang kami juga dibantu pedagang pasar, misalnya buah yang masih bagus tapi kemungkinan tidak laku dijual. Kebanyakan dari pedagang buah dari Mengwi, Pasar Tabanan, Pasar Kediri dan Dauh Pala,” bebernya. (ang)
DUKA 2 Cewek Bandung di Bajera Tabanan, Gede Suarsana Tak Bisa Menghindar, Nyawa Dini Melayang |
![]() |
---|
Laka Maut di Tabanan Bali, Dua Cewek Bandung Bernasib Tragis, Nyawa Fitriani Tak Tertolong |
![]() |
---|
Polres Tabanan Ungkap 4 Kasus Narkoba Sepanjang Agustus 2025, Dua Residivis Berstatus Mahasiswa |
![]() |
---|
KETERLALUAN! Pelaku Pencurian Pratima di Tabanan Jual Barang Rajahan Secara Online |
![]() |
---|
TARGET Kunjungan Hingga 7.000 Wisatawan, Jatiluwih Festival VI Suguhkan Booth UMKM & Atraksi Budaya |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.