Berita Gianyar

Jro Jepang Hampir Diamuk Massa! Adu Kesaktian Dengan Jro Mangku Widi di Abianbase Gianyar

Jro Sadek atau Jro Jepang, seorang content creator hampir diamuk massa di Banjar Pekandelan, Kelurahan Abianbase, Gianyar, Rabu (30/8) malam.

Istimewa
ADU KESAKTIAN – Tangkapan layar Jro Sadek atau Jro Jepang, seorang content creator yang hampir diamuk massa di Banjar Pekandelan, Kelurahan Abianbase, Gianyar, Rabu (30/8) malam. 

TRIBUN-BALI.COM - Jro Sadek atau Jro Jepang, seorang content creator hampir diamuk massa di Banjar Pekandelan, Kelurahan Abianbase, Gianyar, Rabu (30/8) malam.

Hal tersebut terjadi saat Jro Jepang menantang Jro Mangku Made Widiana alias Jro Widi dan tak mengakui kesaktian Jro Mangku Widi.

Selain itu, tingkah Jro Jepang terhadap Jro Mangku Widi dinilai tak beretika. Padahal, Jro Widi sendiri merupakan orang yang disucikan oleh krama Banjar Adat Pekandelan.

Jro Mangku Widi saat ditemui di kediamannya di Banjar Pekandelan, Kamis (31/8) menjelaskan, persoalan tersebut berawal dari videonya saat menjadi tukang undang leak dalam pementasan calonarang 1,5 tahun silam. Video tersebut diunggah oleh orang lain, karena Jro Widi tak pernah meng-upload aktivitasnya di medsos.

Lalu Jro Jepang mengomentari video tersebut dengan kalimat yang dinilai menyakitkan oleh anak-anak asuh Jro Widi. Dimana Jro Widi memiliki paguyuban penekun spiritual, dan dia sendiri sebagai pembimbingnya.

Baca juga: 25 Orang Dalam Radar Polisi! Amarah Massa Berujung Pembakaran Neano Resort di Karangasem Bali

Baca juga: Nelayan Asal Buleleng Masih Hilang! Perahu Kadek Sunarna Ditemukan Terdampar di Pulau Gili Genting

ADU KESAKTIAN – Tangkapan layar Jro Sadek atau Jro Jepang, seorang content creator yang hampir diamuk massa di Banjar Pekandelan, Kelurahan Abianbase, Gianyar, Rabu (30/8) malam.
ADU KESAKTIAN – Tangkapan layar Jro Sadek atau Jro Jepang, seorang content creator yang hampir diamuk massa di Banjar Pekandelan, Kelurahan Abianbase, Gianyar, Rabu (30/8) malam. (Istimewa)

"Beliau (Jro Jepang) dalam unggahannya, menganggap semua yang saya lakukan itu palsu atau keliru. Pada saat itu, ada dari paguyuban saya yang tidak menerima apa yang dia lakukan terhadap orang tuanya.

Lalu mengatakan pada saya sebagai orang tuanya, akan mempertemukan dengan Jro Jepang. Tujuannya untuk mengklarifikasi. Disetujui pertemuan itu adalah tanggal 30 Agustus jam 7 sore. Saya pun menyanggupi. Awalnya maunya tanggal 29, tapi karena saya ada kesibukan ngaben di Karangasem sehingga saya tak sanggupi," ujar Jro Mangku Widi.

Saat hari-H, Jro Jepang datang sendirian. "Saat jam 18.30, banyak pasien datang ke sini. Lalu, beliau (Jro Jepang) datang sampai pasien tak terlayani dengan baik. Beliau datang dengan kalimat, ‘saya ke sini ingin pembuktian. Saya wajib live, bener gak,’ Kalau itu bahasanya, etikanya di mana? Seandainya saya bukan jro mangku, sepatutnya tetap ada etika. Apalagi saya yang sudah disucikan banjar," ujar Jro Widi.

Menerima tamu dengan etika demikian, Jro Widi mengatakan, sebagai manusia biasa, ia pun tak luput dari emosi. Namun ia bersyukur masih bisa mengendalikan emosinya. Lalu dilakukanlah uji kesaktian. Diawali dengan adu ilmu menghipnotis. Namun Jro Jepang tak bisa, namun ngotot belum ada kalah menang. Lalu dilanjutkan dengan mengambil sukma. Saat itu, praktiknya dilakukan pada penonton yang datang, yang belakangan diketahui datang dari Karangasem.

Dalam adu kesaktian itu, Jro Widi lah yang bertugas menidurkan orang tersebut dengan mengambil sukmanya. Sementara tugas Jro Jepang membangunkan. Menurut Jro Widi, jika Jro Jepang bisa membangunkan, maka Jro Jepang bisa dikatakan sakti. Namun dalam adu ilmu tersebut, Jro Jepang tak bisa melakukannya.

"Kalau beliau memang benar pintar dalam keilmuan, pasti bisa melakukan itu. Mohon maaf sekali, bukan saya mau merendahkan orang. Tapi, belajarlah dulu tatanan adab dan etika yang baik. Pak mangku sendiri sudah hampir 42 tahun belajar. Pak mangku menganggap diri Pak mangku masih bodoh sekali. Makanya Pak mangku tak pernah upload di media sosial. Apalagi, ilmu seperti ini kerahasiaannya perlu dijaga," ujarnya.

"Menurut tafsir Pak mangku, beliau baru belajar dan kalau di silat baru di tingkat sabuk putih. Perlu sekali belajar, yang pertama adalah mengenal jati diri," ujarnya.

Terkait alasan Jro Jepang hampir digebuki massa, Jro Widi tak tahu secara pasti. Namun diduga karena berbagai hal. "Pertama, karena kontennya sama dengan melecehkan Banjar Pekandelan secara tak langsung. Kedua, pementasan calonarang, menurut versinya dia mungkin tak akan dianggap lagi karena dianggap pembohongan. Ketiga, banyak orang melihat perilakunya yang tak relevan. Ini yang paling dibenci oleh masyarakat. Tak elok dipandang dan gak elok didengar. Itu yang membuat masyarakat geram," ujar Jro Widi.

Beruntung saat itu, masyarakat mau mendengarkan permintaan Jro Widi untuk tak menghakimi Jro Jepang. "Saat dia pulang, Pak mangku amankan dengan polisi. Dan pak mangku minta pada warga agar tidak disentuh. Saya meminta semua orang melupakan hal ini. Pak mangku tak ada dendam, dan tak akan melanjutkan apa pun lagi soal hal tersebut," ujarnya.

Jro Widi berharap Jro Jepang belajar etika. "Jangan baru kita belajar sedikit saja, kita menganggap diri kita sakti, apalagi menginjak orang lain demi mendapatkan tenar dan uang. Harapan Pak mangku, agar Jro Sadek atau Jro Jepang, belajarlah dulu etika. De ngaden awak bisa, depang anake ngadanin. Belajarlah seperti itu. Mudah-mudahan apa yang Pak mangku katakan, bisa diterima dengan baik oleh semua orang," ujar Jro Widi. (weg)

 

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved