Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Buleleng

Permintaan Terakhir Istri Rochineng, Ngaben Meriah, Bade Harus Dipikul ke Setra

Karangan bunga ucapan belasungkawa kiriman dari berbagai tokoh masyarakat berjejer di sepanjang gang rumahnya. Meninggalnya sang istri membuat Rochine

Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani | Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
Istimewa/Tribun Bali/Ratu Ayu Astri Desiani
MENGENANG ISTRI - Anggota DPRD Bali Ketut Rochineng foto bersama istrinya, Ni Made Sri Ardiani. INZET: Rochineng saat ditemui di rumah duka, Kamis (7/9). Ia sangat kehilangan sosok istri yang selama ini selalu menjadi inspirasinya. 

TRIBUN-BALI.COM - Suasana duka di rumah anggota DPRD Bali, Ketut Rochineng, Kamis (7/9). Rochineng kehilangan istri tercintanya, Ni Made Sri Ardiani yang meninggal dunia akibat sakit jantung.

Karangan bunga ucapan belasungkawa kiriman dari berbagai tokoh masyarakat berjejer di sepanjang gang rumahnya. Meninggalnya sang istri membuat Rochineng tampak begitu terpukul.

Bagi dia, istri adalah kekuatannya. Wanita yang ia cintai itu pun kini telah tiada, Rochineng mengaku merasa hampa. "Tidak ada istri rasanya seperti kosong, tidak punya kekuatan. Sekarang terasa sepi," ucapnya.

Pria asal Desa Patemon, Kecamatan Seririt, Buleleng ini mengatakan, Ardiani adalah sosok yang memiliki karakter keras. Karakter itu terbawa dari profesinya sebagai seorang pensiunan guru biologi di SMP Negeri 2 Denpasar.

Baca juga: Pemkab Bangli Siapkan Anggaran Rp 4 Miliar Untuk Bonus Atlet dan Pelatih di Porprov Bali XV/2022

Baca juga: BREAKING NEWS! Kecelakaan Truk Pengangkut Pupuk Terguling di Kintamani Bangli, Begini Kondisinya! 

Anggota DPRD Bali Ketut Rochineng bersama almarhum istrinya Ni Made Sri Ardiani semasa hidup.
Anggota DPRD Bali Ketut Rochineng bersama almarhum istrinya Ni Made Sri Ardiani semasa hidup. (Ratu Ayu/Tribun Bali)

Meski kerap marah pada anak dan keponakannya, namun tujuan Ardiani sejatinya baik. "Dia sering memarahi anak dan keponakan untuk tujuan yang baik," kenang Rochineng.

Ayah satu anak ini menuturkan, Ardiani memiliki riwayat sakit jantung bawaan sejak lahir. Katup jantungnya bocor sehingga harus bolak-balik menjalani perawatan di RSUP Prof Ngoerah Denpasar, Jakarta hingga Singapura.

Sekitar lima bulan yang lalu, kondisi kesehatan sang istri kian memburuk hingga terjadi komplikasi liver. "Setelah dewasa jantungnya tambah bocor. Saya ajak ke Singapura untuk diganti dengan klep jantung sapi. Saat umur 40an, jantungnya tidak bisa normal. Bocor lagi sampai jadi komplikasi ke liver," jelasnya.

"Pengobatan kami lakukan di Denpasar dan Jakarta tapi tidak bisa diantisipasi. Fungsi organnya sudah mati, darahnya berkurang terus. Daya tahan tubuhnya dan kesadarannya semakin menurun," sambung Rochineng.

Sang istri pun mengembuskan napas terakhirnya, Selasa (29/8) di RSUP Prof Ngoerah. Ardiani meninggal dunia di usia 64 tahun. Detik-detik sebelum meninggal, Rochineng menyebut almarhum sempat berpesan ingin diupacarai dengan meriah.

Bade atau wadah jenazah yang digunakan tidak boleh didorong dengan roda. Melainkan harus dipikul sejauh dua kilometer menuju ke Setra Desa Adat Patemon.

Atas permintaan itu, Rochineng mengaku telah menyiapkan ratusan orang untuk membantunya memikul bade sang istri. Upacara akan dilaksanakan Jumat, hari ini.

Untuk mengenang sosok almarhum, Rochineng mengaku akan membuat sebuah lagu untuk sang istri. Belum diketahui apa judul lagu yang akan dibuat, namun yang pasti lagu tersebut akan dimasukan pada album keempatnya.

Bagi Rochineng, sosok istri adalah inspirasi dalam membuat beberapa lagu seperti 'Tuah Iluh' dan 'Nyujuh Ipian'. "Saya mulai menyanyi tahun 2015, pulang dari Singapura. Inspirasi saya dapatkan dari sana. Video klip Nyujuh Ipian dibuat di Singapura, itu saat istri bolak-balik berobat," kenangnya. (rtu)

 

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved