Berita Denpasar
Kemarau Panjang, Distan Denpasar Antisipasi Hama dan Air Irigasi
Kemarau panjang terjadi di Bali termasuk Denpasar belakangan ini. Kemarau panjang ini merupakan dampak dari adanya badai El Nino atau sebuah fenomena
Penulis: Putu Supartika | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Kemarau panjang terjadi di Bali termasuk Denpasar belakangan ini.
Kemarau panjang ini merupakan dampak dari adanya badai El Nino atau sebuah fenomena pemanasan Suhu Muka Laut (SML) yang memicu terjadinya kekeringan.
Dengan kondisi tersebut, pemerintah pun melakukan antisipasi kebutuhan pangan, termasuk juga di Denpasar.
Terkait hal tersebut, Dinas Pertanian (Distan) Kota Denpasar pun melakukan berbagai langkah antisipasi.
Baca juga: 1000 Ekor Anjing Dipasangi Microchip di Sanur Kaja Denpasar, Bisa Lacak jika Hilang
Kepala Dinas Pertanian Kota Denpasar, AA Bayu Brahmasta mengatakan saat ini di Denpasar suhu memang panas mencapai 33 derajat.
Namun menurutnya, kemarau ini tak terlalu berpengaruh secara signifikan terhadap pertanian di Kota Denpasar.
Hal ini karena Denpasar sejak lama sudah memiliki pola tanam dan pembagian air setiap tahunnya.
“Misal kalau tahun ini yang dapat air adalah Subak Intaran, maka di sana melakukan penanaman padi, sementara subak yang tak dapat pembagian air akan melakukan penanaman palawija termasuk cabai, bawang. Dan bukan berarti mereka sama sekali tak dapat air, artinya dapat air, misal dua minggu sekali,” katanya, Selasa, 10 Oktober 2023.
Baca juga: Turunkan Kemiskinan Ekstrem, Denpasar Anggarkan Rp5 Miliar
Meskipun demikian, berbagai antisipasi pun tetap dilakukan, mengingat Denpasar berada di hilir.
Pihaknya pun bekerja sama dengan para pekaseh terkait dengan debit air pada saluran irigasi.
“Kami selalu memantau agar debit air tidak di bawah batas normal. Untuk saat ini masih berada pada batas normal. Meskipun debit air pasti menurun, tapi tidak berpengaruh signifikan,” katanya.
“Rencana tanam di Denpasar sudah berjalan normal, namun rencana panen ini yang harus kami antisipasi terus,” katanya.
Baca juga: 69 Ribu Anjing Sudah Divaksin, Ada 17 Kasus Positif Rabies di Kota Denpasar
Oleh karena itu, selain memantau debit air, pihaknya juga memantau keberadaan hama penyakit pengganggu tanaman.
Menurutnya, perubahan cuaca yang bisa memicu munculnya hama yang rentan terhadap pertanian. (*)
Berita lainnya di Musim Kemarau
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/ondisi-lahan-pertanian-di-kawasan-Denpasar-Timur-saat-musim-kemarau.jpg)