Jalan Baru Singaraja - Mengwitani Titik 7D dan 7E di Gitgit, Kontraktor Optimis Rampung Juli 2024

Pihak kontraktor dalam hal ini PT Sinar Bali dan Agung KSO optimistis mega proyek senilai Rp 82 miliar ini dapat diselesaikan tepat waktu hingga Juli

Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
TRIBUN BALI/Ratu Ayu Astri Desiani
Pelaksana proyek saat menunjukan progres pembangunan shortcut titik 7D dan 7E, Kamis (30/11). Saat ini progres pembangunan sudah mencapai 20 persen 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Progres pembangunan shortcut atau jalan baru batas kota Singaraja - Mengwitani titik 7D dan 7E di wilayah Banjar Dinas Wirabhuana, Desa Gitgit, Kecamatan Sukasada, Buleleng, sudah mencapai 20 persen.

Pihak kontraktor dalam hal ini PT Sinar Bali dan Agung KSO optimistis mega proyek senilai Rp 82 miliar ini dapat diselesaikan tepat waktu hingga Juli 2024.

Wilayah Desa Gitgit saat ini kerap diguyur hujan yang membuat proses galian sedikit terganggu.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 3.3 Provinsi Bali, Yoni Sathia mengatakan, pekerja harus menunggu hujan reda untuk melanjutkan pengerjaan.

Kendati demikian, dari segi progres pihaknya mampu mengerjakan proyek tersebut melebihi dari target atau plus delapan persen.

"Untuk pengerjaan beton tidak ada masalah di lokasi bisa dipasangi terpal. Kalau untuk galian memang kami tidak berani, lebih berisiko. Kalau hujan, harus tunggu reda. Pengerjaan memang kami kebut, ditargetkan hingga akhir Desember progresnya sudah sampai 40 persen sehingga memasuki 2024 bisa santai," jelasnya, Kamis (30/11).

Setidaknya ada lima poin pengerjaan dalam proyek ini. Pertama pada titik 7D dan 7E akan dibangun jalan sepanjang 400 meter dengan memangkas delapan tikungan menjadi empat tikungan. Kedua akan dibangun sebuah jembatan kurang lebih 155 meter tepat di titik 7D.

Ketiga jalan yang dibangun juga akan fokus pada perbaikan geometrik agar tidak terlalu menanjak dan menurun. Keempat memperbaiki elevasi jalan yang sebelumnya berada pada kemiringan lebih dari 10 persen akan dirancang menjadi di bawah 10 persen agar kendaraan besar mudah untuk bermanuver di tikungan.

Baca juga: Pemkab Usulkan Pembangunan Dua Short Cut di Karangasem ke Pemerintah Pusat

Kelima membuat tebing setinggi 60 meter pada titik 7E. Untuk mencegah terjadinya longsor, pihaknya melakukan penguatan tebing dengan menggunakan metode soil nailing hingga di 340 titik serta membuat saluran air di lereng-lereng bukit. "Tanah di wilayah itu memang agak humus, sehingga rawan longsor," ucapnya.

Yoni mengakui sudah menerima keluhan dari pengendara lantaran jalur Desa Gitgit saat ini licin akibat material shortcut. Ia mencoba menangani permasalahan ini dengan menyediakan dua unit water tanker. Selain itu pihaknya juga menyiagakan tenaga kerja lima hingga 10 orang agar material yang tumpah ke jalan dapat langsung dibersihkan.

"Water tanker bisa digunakan untuk membersihkan jalan setelah hujan reda. Kalau pas lagi hujan, sudah ada beberapa petugas yang standby langsung membersihkan materialnya sehingga pengendara dapat melintas dengan aman," kata dia.

Selain keluhan jalan licin, Yoni juga tidak menampik pengelola wisata air terjun yang ada di wilayah Gitgit mengeluh lantaran air jadi keruh. Ia akan mencoba menangani permasalahan ini dengan memasang check dum. "Kami juga berencana memasang matras penguatan ditanami pohon supaya tidak ada erosi. Kami juga akan lakukan pengecekan kualitas air," katanya. 

Limbah Kotori Air Terjun di Gitgit

Perbekel Desa Gitgit, Putu Arcana mengaku sudah berkoordinasi dengan pelaksana proyek agar luapan material segera diantisipasi sebelum hujan turun. Terlebih pada pengerjaan titik 7E, limbahnya menuju ke Air Terjun Campuhan serta beberapa air terjun lainnya.

"Air terjun jadi cokelat dampak penggalian di titik 7. Kami sudah meminta agar diantisipasi seminim mungkin agar. Kalau menghilangkan total tidak mungkin, pasti ada material yang hanyut," demikian ungkap Putu Arcana.

Saat musim kemarau, beberapa siswa di SDN 3 Gitgit juga sempat terganggu lantaran adanya debu, dampak dari pembangunan shortcut. Pihak pelaksana proyek sudah mengantisipasi dengan memberikan bantuan masker. "Kami sudah minta agar dampak-dampak yang bisa merugikan masyarakat umum bisa diminimalisir," tandasnya. (*)

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved