Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Human Interest

Cerita Warung Pedagang Daging Erwe di Bali, Sehari Pernah Habiskan 20 Ekor Anjing

MESKI sengaja tidak dicantumkan di menu makanan yang dipajang di warung makan, namun olahan daging anjing atau RW (Erwe)

Tayang: | Diperbarui:
Tribun Bali/Adrian Amurwonegoro
DAGING ERWE - Sajian kuliner nasi dan daging Erwe yang dijual di salah satu warung di Kota Denpasar, pekan lalu - Cerita Warung Penjaja Daging Erwe di Bali, Sehari Pernah Habiskan 20 Ekor Anjing 

TRIBUN-BALI.COM - MESKI sengaja tidak dicantumkan di menu makanan yang dipajang di warung makan, namun olahan daging anjing atau RW (Erwe) Rintek Wuuk (Bulu Halus, red) dalam terminologi Manado, tersaji untuk pelanggan penikmat kuliner olahan ini.

Baca juga: Nekad Jual Daging Anjing di Bali Kini Bisa Dipidana dan Ini Bahaya Daging Anjing Bagi Kesehatan


Penjual tampak standby di depan warung dengan ramah menyapa pengunjung.

Saat ditanya apakah menyediakan daging RW, dengan sigap penjual langsung menjawab iya.


Sang penjual pun segera menyiapkan sajian berupa nasi putih dan olahan daging RW yang sudah masak di sebuah wadah penyaji makanan.

Baca juga: Evakuasi Dramatis, Seekor Anjing Selamat Setelah Sehari Lebih Terjebak di Gorong- gorong Jalan


Satu porsi berisi daging RW dengan cita rasa pedas dan nasi serta satu botol air mineral dibanderol tidak lebih dari harga Rp50 ribu.


Memang tak hanya daging RW, warung yang berada di salah satu sudut Kota Denpasar yang sudah buka sejak tahun 2008 ini juga menyediakan olahan daging babi dengan bumbu yang khas dari warung ini.

Baca juga: Dokter Sasa Ungkap Potensi Bahaya Santap Daging Anjing, Beberkan Puluhan Kasus Keracunan


Pelanggan demi pelanggan datang untuk menikmati kuliner khas yang digemari sebagian masyarakat ini.


Di beberapa daerah di Indonesia, meski kecaman terus mengalir, daging anjing masih disantap baik dijual secara terang-terangan maupun terselubung.


Selain Manado, terminologi masakan anjing dikenal berbeda-beda di daerah-daerah, seperti kode B1 berasal dari kata biang yang bahasa Batak adalah anjing.


Di beberapa kota di Jawa seperti Solo dan Yogyakarta, sate daging anjing disamarkan dengan sebutan "rica-rica/sate jamu" serta kerap disebut tongseng daging anjing disingkat sengsu, singkatan dari tongseng asu dalam bahasa Jawa. Bahkan ada yang terang-terangan menuliskan Rica-rica Guguk.


Di Bali pun masih ada banyak penjual makanan dengan menu daging anjing. Salah satunya Pepe (nama samara, red) yang berjualan di Kota Denpasar.


Pepe menyebutkan bahwa pelanggannya sangat banyak di wilayah Denpasar, baik orang dari luar Bali maupun warga lokal Bali.

Bahkan saat ramai-ramainya ia pernah menghabiskan sampai dengan 20 ekor anjing dalam sehari.


"Pernah sehari 20 ekor anjing waktu ada tenaga (karyawan, red) yang membantu. Sekarang karyawan pulang, jadi sekarang untuk pesan daging ada tempat pesan khusus," ucap Pepe merahasiakan distributor pemasok daging anjingnya.


"Menu tidak dicantumkan tapi orang sudah paham, banyak langganan dari luar Bali dan Bali. Daging sekarang saya pesan khusus. Dulu jagal sendiri, karena karyawan pada pulang, jadi semampu saya," imbuhnya.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved