Kalender Bali

KALENDER BALI: Jadwal Hari Raya Hindu Sepanjang Mei 2024 Lengkap Dengan Penjelasan Rerahinannya

KALENDER BALI: Jadwal Hari Raya Hindu Sepanjang Mei 2024 Lengkap Dengan Penjelasan Rerahinannya

Editor: Putu Kartika Viktriani
Tribun Bali/Putu Kartika
Kalender Bali Mei 2024. 

Buda Wage sendiri  merupakan payogaan Sang Hyang Manik Galih yang menurunkan Sang Hyang Ongkara Merta untuk menciptakan kesuburan.

Hari ini dirayakan sebagai wujud syukur atas anugerah kesuburan di bumi.

Saat Buda Wage atau Buda Cemeng Menail, umat Hindu di Bali menghaturkan banten dan melakukan persembahyangan di pura maupun merajan.

Beberapa umat juga ada yang melaksanakan odalan saat Buda Cemeng tiba.

Hal itu sebagai wujud syukur dan bhakti atas anugerah kesuburan yang diterima.

Selain itu, beberapa kelompok tani tradisional biasanya menggelar paruman (musyawarah) saat Buda Wage.

Setelah paruman, barulah dilanjutkan dengan melakukan persembahyangan.

Kesuburan dapat dimaknai lebih luas dan tak hanya berkaitan dengan hasil bumi.

Dengan kesuburan, kata Badra, manusia akan memperoleh kedamaian dan kebahagiaan dalam hidup.

Kesuburan dalam hal ini bukan berarti hanya dari hasil bumi saja, tapi juga bisa dari segi keuangan dan yang lainnya.

5. Purnama

Pada umumnya di kalangan umat Hindu, sangat meyakini mengenai rasa kesucian yang tinggi pada hari Purnama, sehingga hari itu disebutkan dengan kata ”Devasa Ayu”.

Oleh karena itu, setiap datangnya hari-hari suci yang bertepatan dengan hari Purnama maka pelaksanaan upacaranya disebut, ”Nadi”.

Tetapi sesungguhnya tidak setiap hari Purnama disebut ayu tergantung juga dari Patemon dina dalam perhitungan wariga.

Contoh :

• Hari Kajeng Keliwon, jatuh pada hari Sabtu, nemu (bertemu) Purnama, disebut hari itu, ”Hari Berek Tawukan”. Dilarang oleh sastra agama melaksanakan upacara apapun, dan Sang Wiku tidak boleh melaksanakan pujanya pada hari itu (Lontar Purwana Tatwa Wariga).

• Bila Purnama jatuh pada hari Kala Paksa, tidak boleh melaksanakan upacara agama karena hari itu disebut, ”Hari gamia” (jagat letuh). Sang Wiku tidak boleh memuja.

Di dalam Lontar ”Purwana Tattwa Wariga” diungkapkan antara lain : ”Risada Kala patemon Sang Hyang Gumawang Kelawan Sang Hyang Maceling, mijil ikang prewatekening  Dewata muang apsari, saking swargo loko, purna masa ngaran”.

Maksud Lontar di atas, bahwa Sang Hyang Siva Nirmala (Sang Hyang Gumawang) yang beryoga pada hari purnama, untuk menganugrahkan kesucian dan kerahayuan (Sang Hyang Maceling) terhadap seisi alam dan Hyang Siva mengutus para Deva beserta para Apsari turun ke dunia untuk menyaksikan persembahan umat manusia khusunya umat Hindu kehadapan Sang Hyang Siva.

Oleh karena itulah disebut Piodalan nadi, Galungan nadi, sehingga ada penambahan terhadap volume upakaranya.

Disamping itu karena Hyang Siva merupakan Devanya Sorga, maka umat Hindu selalu tekun menghaturkan persembahan serta memujanya kehadapan Hyang Siva setiap datangnya hari Purnama dengan harapan bagi umat Hindu agar nantinya setelah ia meninggal, rohnya bisa diberikan tempat di Sorga, atau kembali ke alam mokshah.

Berikut hari Purnama Tilem yg mempunyai makna khusus bagi Umat Hindu :

  • Sasih Kapat

Purnama Kapat beryoga Bhatara Parameswara sebagai Sang Hyang Purusangkara,diiringi para Dewa,Widyadara-Widyadari dan para Rsi gana.

Dan pada Tilem Kapat dilakukan penyucian batin persembahan kepada Widyadara-Widyadari.

  • Sasih Kepitu

Pada purwaning Tilem sasih Kepitu Umat Hindu merayakan hari raya Suci Siwa Ratri.

Pada malam ini Sang Hyang Siwa beryoga, malam ini juga biasa disebut malam peleburan dosa.

  • Sasih Kesanga

Tilem sasih Kesanga adalah penyucian para Dewata, dalam hal ini pelaksanaan ajaran Bhuta Yadnya yg disimbulkan Tawur Agung Kesanga.

  • Sasih Kedasa

Purnama sasih Kedasa dilakukan pemujaan terhadap Sang Hyang Sunya Amerta pada Sad Kahyangan Wisesa.

Piodalan Bhatara Turun Kabeh di Pura Besakih dilakasanakan setiap Purnama sasih Kedasa.

  • Sasih Sadha

Pada Purnama Sadha Umat Hindu memuja Bhatara Kawitan di Sanggah Kemulan.

6. Kajeng Kliwon Uwudan

Kajeng Kliwon Uwudan dimaknai sebagai hari untuk melakukan kegiatan ritual agama, dengan tujuan untuk mencapai keseimbangan, keselarasan, dan keserasian antara bhuana agung dan bhuana alit.

Ajaran percaya bahwa kehidupan ada dua alam yaitu niskala kadewataan (alam luhur) atau alam para dewa serta alam kabhutanan (alam bawah) yaitu alamnya para bhuta kala.

Kajeng Kliwon  Juga diartikan sebagai  hari pemujaan terhadap Sanghyang Siwa, karena diyakini pada hari itu Sanghyang Siwa sedang bersemedi.

Upacara Kajeng Kliwon termasuk dalam upacara Dewa Yadnya.

Masyarakat Hindu di Bali percaya bahwa upacara Kajeng Kliwon begitu suci sehingga dianggap keramat.

7. Hari Bhatara Sri

Rerainan Bhatara Sri merupakan hri pemujaan terhadap Bhatara Sri Rambut Sedana.

Hari Bhatara Sri merupakan Hari Raya yang jatuh berdasarkan wuku Merakih bertemu Sapta Wara Sukra (Jumat) dan Pancawara Umanis.

Dikutip dari laman Kabardewata, hari raya ini jatuh setiap 210 hari sekali atau setiap enam bulan sekali dan merupakan hari raya Hindu di Bali berdasarkan wuku yaitu Merakih yang bertemu dengan Saptawara Sukra (Jumat) dan Pancawara Umanis.

Demikianlah hari Rerainan Hindu selama Bulan April 2024 sesuai dengan kalender Bali.

Semoga Senantiasa mengingatkan kita terhadap kewajiban sebagi umat Hindu khususnya di Bali, dan memaknai  esensi hari –hari tersebut dengan baik dan benar. (Ni Wayan Buda Utari)   

(*)

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved