Harga Beras Terus Merangkak Naik, Menkeu Sri Mulyani Khawatir Inflasi Ikut Terkerek

Pemerintah mulai khawatir kenaikan harga beras yang saat ini sedang terjadi akan mengerek inflasi kembali meningkat.

Editor: Ady Sucipto
Istimewa
Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Republik Indonesia (RI) Sri Mulyani Indrawati 

Berdasarkan realitas di pasaran, kata dia, kenaikan harga beras tahun ini mencapai 20 persen lebih dibandingkan tahun lalu.

Dari Rp 14.000 ke Rp 18.000 per kg.

Untuk itu, Ikappi mendorong pemerintah untuk menggenjot produksi beras dari hulu ke hilir. Maka produksi di tahun 2024 harus di genjot sedemikian rupa.

"Dengan cara subsidi di gelontorkan, subsidi pupuk juga di perbesar anggarannya dan skalanya di perluas sehingga produksinya lebih besar," ungkapnya.

Untuk saat ini menjelang ramadan penyelesaian persoalan beras solusinya ialah menggelontorkan stok yang dimiliki oleh pemerintah, perusahaan lokal, serta penggilingan untuk di drop di pasar tradisional, termasuk mendorong satgas pangan Mabes Polri agar memantau stok yang dimiliki oleh pihak-pihak tersebut di atas agar tidak tertahan dan segera dikeluarkan.

"Termasuk Bulog untuk memastikan pendistribusian beras medium ke pasar tradisional dan retail," kata Reynaldi.

Jika Bulog lebih fokus kepada bantuan pangan secara packaging-nya dan tidak mengindahkan permintaan presiden untuk mengguyur di pasar tradisional dan retail maka lebih celaka lagi kondisi yang akan kita hadapi ke depan.

"Dan itu solusi yang kami tawarkan oleh IKAPPI kepada pemerintah dan semua pihak," katanya.

Sebagai informasi, Berdasarkan data panel harga pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) pada Jumat (23/2) pukul 11.01 WIB, Komoditas beras medium naik paling tinggi Rp 390 (2,65 persen) menjadi Rp 15.100 per kg. Sedangkan beras premium: Rp 16.310 per kg (turun 2,74 persen).

Baca juga: Mendekati Galungan, Harga Cabai Rawit Kecil Rp 100 Ribu/Kilogram di Pasar Cokroaminoto Denpasar

Kenaikan Harga Bersifat Sementara

Inflasi harga pangan bergejolak atau volatile food melonjak pada Januari 2024.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, inflasi kelompok tersebut pada awal tahun ini sebesar 7,22 persen YoY atau naik dari 6,73 persen YoY pada Desember 2023.

Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan, kenaikan harga pangan ini hanya bersifat sementara.

Sehingga tak akan mengganggu rancangan arah kebijakan moneter BI ke depan.

Senada dengan Bos BI, Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual menilai sejauh ini inflasi pangan belum akan menjadi alasan bagi BI mengubah kebijakan suku bunga acuan, apalagi sampai menaikkan kembali suku bunga.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved