Mahasiswa STIP Tewas
Tangis dan Kenangan: Kisah Putu Satria dan Tuntutan Keadilan dari Seorang Ibu
Duka mendalam bagi Ni Nengah Rusmini, ibu dari Putu Satria, seorang taruna STIP Jakarta, yang meninggal usai mengalami kekerasan fisik dari seniornya.
TRIBUN-BALI.COM - Duka mendalam menyelimuti Ni Nengah Rusmini, ibu dari Putu Satria Ananta Rustika, seorang taruna di Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta, yang meninggal usai mengalami kekerasan fisik dari seniornya.
Rusmini, seorang ibu dari tiga anak dan tenaga medis, terlihat terpukul saat mengingat kembali kenang-kenangan bersama putranya, yang akrab disapa Rio.
Melalui pantauan wartawan Tribun Bali, di rumah duka di Semarapura, Rusmini berbagi kisah tentang Rio, yang fotonya masih terpajang di kamar yang kini tampak rapi dan sepi.
“Ini foto Rio saat usia 4 tahun. Tangannya saat itu patah. Dia anak yang sangat bersemangat," katanya, menunjuk foto tersebut. Dia juga memperlihatkan seragam SMA Rio yang penuh dengan coretan kenangan, “Baju ini tidak boleh diambil atau ditaruh ke bawah kata Rio. Ini kenang-kenangannya saat SMA," ungkap Rusmini.
Kepergian Rio yang tragis terjadi setelah ia menerima serangkaian pukulan di ulu hati dari seniornya, yang hanya diidentifikasi sebagai Tegar dari Bekasi, di toilet lantai II STIP Jakarta.
Kejadian naas itu berawal saat Rio dan teman-temannya dipanggil untuk berbaris oleh senior mereka.
Rusmini, dengan mata berkaca-kaca, menjelaskan bahwa anaknya ditemukan dengan banyak luka lebam dan tanda-tanda kekerasan lainnya yang menurutnya tidak mungkin hanya diakibatkan oleh satu orang.
“Saya lihat banyak kejanggalan, dari apa yang saya lihat dan perkembangan kasus ini. Kenapa hanya satu tersangka, saya yakin pelakunya lebih dari satu orang," katanya.
Di samping itu, Rusmini menemukan sebuah buku catatan Rio yang mengungkapkan kepribadiannya dan aspirasinya.
“Saya orang yang mudah bergaul dan beradaptasi, kekurangan saya pelupa.
Saya dilahirkan untuk mengangkat derajat keluarga.
Tugas saya di keluarga adalah memberikan contoh kepada adik-adik saya.
Tugas saya kepada negara, adalah mengabdi dan membangun bangsa ini.
Tugas saya untuk diri sendiri adalah, menjadi seseorang yang bermanfaat pada lingkungan," tulis Rio dengan tangan sendiri.
Membaca catatan itu, Rusmini tak kuasa menahan tangis.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.