Akasaka Bali Buka Kembali
Nyoman Punglik: Akasaka Bali Bukan Problem
Nyoman Punglik tidak membenarkan peristiwa pelanggaran hukum terjadi di Akasaka Bali.
Penulis: Adrian Amurwonegoro | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Penasihat hukum Akasaka Bali, Nyoman Gede "Punglik" Sudiantara turut buka suara mengenai sorotan-sorotan yang mengarah kepada kelab malam terbesar di Kota Denpasar yang berlokasi di Simpang 6 Teuku Umar Kota Denpasar yang kini telah kembali beroperasi.
Pengacara kondang yang karib disapa Nyoman Punglik ini menjelaskan, ditilik dari aspek hukum sejatinya masalah bukan ada pada tempat usaha, melainkan oknum.
"Dari segi materiil tempat, nama Akasaka ini tidak bersalah menurut hukum acara. Apalagi 'barang' (narkoba, Red) itu dibawa dari luar. Harus dilihat dari aspek subjek dan objeknya," kata Punglik saat dijumpai Tribun Bali di kantornya, Senin 8 Juli 2024.
Ia cukup menyayangkan stigma negatif sebagian masyarakat yang mengarah pada Akasaka pasca kejadian itu.
Baca juga: Akasaka Klub Terbesar di Denpasar Beroperasi Lagi, Polda dan Pemprov Perketat Keamanan
Oleh sebab itu seiring dengan dibukanya kembali Akasaka, dirinya ingin angkat bicara pada publik.
"Secara kronologis penangkapan saat itu dilakukan oleh Bareskrim. Lalu garis polisi ada masa berlakunya. Setelah penyidikan selesai tidak ada alasan terus memasang berlama-lama. Saya ingin memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat umum. Sebagaimana UUD (Undang-Undang Dasar) negara kita berdasarkan hukum bukan berdasar kekuasaan, bukan menerima begitu saja," bebernya.
Dari aspek sosiologis dan ekonomis, bicara Akasaka bukan hanya sebatas kelab malam, namun di dalamnya ada jiwa yang menggantungkan hidup dan penggerak gairah ekonomi masyarakat di kawasan sekitar.
"Berapa manusia kehilangan pekerjaan dan mata pencaharian. Kondisi sekian lamanya. Pernah tidak terpikirkan?" ujarnya.
Nyoman Punglik juga tidak membenarkan peristiwa pelanggaran hukum terjadi di Akasaka.
Dirinya pun setuju bahwa narkoba harus diberantas dan tempat hiburan malam (THM) bersih dari barang haram itu.
"Dengan keberadaan Akasaka, saya tidak suka drugs (obat-obatan terlarang, Red). Drugs itu merusak jiwa bangsa. Menghancurkan bangsa itu harus ditindak dan ditangani. Itu positif. Yang saya bela di sini adalah yang menggantungkan ekonomi di sana," kata dia.
Nyoman Punglik yang menjadikan Ida Pedanda Gede Made Gunung sebagai acuan prinsip hidup menyampaikan pesan untuk analogi tentang Akasaka.
Bahwa di dalam hidup, kepekaan telinga dan otak harus diasah, yakni dengan sadar diri siapa, kenapa di dunia dan setelah di dunia serta percaya pada karma.
Dalam hal ini, ia berharap tidak ada lagi stigma negatif, namun agar memandang ke arah yang positif, bagaimana kehadiran Akasaka memberikan dampak bagi masyarakat di sekitar dan dunia pariwisata Bali.
"Hidup punya limitasi, berbicara kekuatan, kekuasaan, kehebatan hanya berbatas waktu. Jangan sewenang-wenang. Saya hanya ingin mengingatkan bahwa hidup adalah belajar berproses. Yang paling penting adalah berbuat baik. Apapun ajaran, yang paling bagus adalah ajaran berbuat baik. Rohnya kasih sayang," ujarnya. (ian)
Kumpulan Artikel Akasaka
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Suasana-tempat-hiburan-malam-Akasaka-menjelang-dibuka-kembali.jpg)