Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Jembrana

MANTAP! Ratusan Warga Jembrana Ikuti Program Kesetaraan Paket B dan C

Menurut data yang berhasil diperoleh Tribun Bali, untuk program kesetaraan paket B tercatat sebanyak 55 orang. Sementara untuk program kesetaraan

Tayang:
Freepik/mindandi
Ilustrasi - Sebanyak 363 warga di Kabupaten Jembrana mengikuti program kejar paket B dan C. Meskipun jumlahnya cenderung menurun setiap tahun, namun jumlah ini tergolong masih tinggi. 

TRIBUN-BALI.COM  - Sebanyak 363 warga di Kabupaten Jembrana mengikuti program kejar paket B dan C. Meskipun jumlahnya cenderung menurun setiap tahun, namun jumlah ini tergolong masih tinggi.

Tahun ini, masih didominasi warga yang mengikuti kejar Paket C atau program kesetaraan untuk SMA. Sebab, ijazahnya nanti lebih banyak digunakan sebagai syarat mencari kerja. Sebagian lainnya adalah untuk syarat mencalonkan diri mengikuti pemilihan perangkat desa seperti kelian.

Menurut data yang berhasil diperoleh Tribun Bali, untuk program kesetaraan paket B tercatat sebanyak 55 orang. Sementara untuk program kesetaraan paket C atau setara SMA sebanyak 308 orang. Rata-rata mereka sebelumnya putus sekolah karena berbagai alasan. Misalnya menikah dini, dan buta huruf serta masalah prekonomian.

“Tahun ini total yang mengikuti 363 orang. Itu untuk paket B dan C. Namun masih didominasi Paket C setara SMA,” kata Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Jembrana, I Gusti Putu Anom Saputra saat dikonfirmasi, Kamis (8/8).

Baca juga: Polres Bangli Rutin Gelar Pengaturan Potensi Gangguan Pagi Hari, Simak Penjelasannya!

Baca juga: Tim Goak Geledah Rumah NDP, Polres Buleleng Gagalkan Penyeludupan Setengah Kilogram Narkoba

Dia melanjutkan, mereka yang mengikuti program kesetaraan ini pada Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dan juga Sanggar Kegiatan Belajar (SKB). Setiap tahunnya, jumlahnya terus menurun seiring berjalannya waktu. Misalnya pada 2023 lalu masih ada 514 orang, tahun ini masih tersisa 363 orang.

Sistem pembelajarannya sama dengan sekolah pada umumnya. Yakni dalam waktu tiga tahun. Namun, proses pembelajarannya sudah terjadwal, artinya tidak setiap hari. “Jadi setiap tahun ada pengurangan.

Tetapi setiap tahunnya juga yang mengikuti program karena tujuan mereka untuk mencari kerja dan lain sebagainya,” ungkapnya.

Lalu apa penyebab warga tersebut sampai mengikuti kejar paket B dan C? Birokrat asal Kabupaten Tabanan ini mengungkapkan ada sejumlah alasan. Di antaranya putus sekolah karena faktor ekonomi dan hamil di luar nikah.

Kemudian sebagian juga ada yang karena buta huruf sehingga putus sekolah pada jenjang SD-SMP. “Intinya sebagian besar karena untuk bekerja, terutama syarat pekerjaan minimal ijazah SMA,” jelasnya. (mpa)

 

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved