Pilkada 2024

Surya Paloh Sebut Pilkada Udah Tak Asyik! Ada Skenario Memenangkan Calon Tertentu

Di sisi lain, Surya Paloh mengaku gerah dengan banyak kabar penangkapan figur tertentu diduga terlibat kasus korupsi.

Tribunnews
BERI KETERANGAN - Ketua Umum DPP Partai NasDem Surya Paloh memberi keterangan saat ditemui awak media di NasDem Tower, Jakarta, beberapa waktu lalu. 

TRIBUN-BALI.COM - Ketua Umum (Ketum) Partai NasDem Surya Paloh menilai Pilkada 2024 sudah tak asyik jika calon-calon yang diajukan oleh pihak tertentu sudah diskenariokan untuk menang.

Ibaratnya tak ada lagi yang berburu di hutan, tapi berburu di kebun binatang. Surya Paloh menekankan, Pilkada Serentak 2024 harus menjunjung tinggi perlakuan yang adil bagi seluruh pihak.

"Satu, fairness (adil) dalam berkompetisi kita harus berjuang bersama-sama," kata Surya kepada wartawan di NasDem Tower, Jakarta, Senin (12/8).

Ia mengatakan, kompetisi, dalam hal ini pilkada, tidak akan terasa indah lagi jika calon-calon kepala daerah itu sudah ditentukan pihak tertentu sejak awal dan dengan skenario tertentu diupayakan agar calon tersebut yang memenangkan kompetisi.

"Untuk apa kita bikin kompetisi? Sama aja ilustrasinya. Mari kita sama-sama berburu, berburu di mana? Kita mencari rusa, yang satu bilang kita cari harimau, yang satu bilang 'cari gajah', di mana kita berburu?," jelasnya.

Baca juga: UTANG Indonesia Bisa Melonjak 41 Persen, IMF Ingatkan Jika Defisit Dipatok 3 Persen

Baca juga: Jusuf Hamka: Saya pun Sakit! Airlangga Mundur, Ia juga Mundur dari Partai, Baginya Golkar Labil

"Kita langsung asosiasi kita berpikir berburu di hutan, dia bilang tidak, itu sudah tidak laku lagi, yang paling efektif itu berburu di kebun binatang. Jadi kenapa? Kita tinggal pilih. Pilih harimau sudah pasti dapat, gajah ada. Jadi kalau kompetisi ibarat berburu di kebun binatang, udah enggak indah lagi itu kompetisinya," paparnya.

Di sisi lain, Surya Paloh mengaku gerah dengan banyak kabar penangkapan figur tertentu diduga terlibat kasus korupsi.

Namun ia tidak menjelaskan secara rinci siapa saja figur yang ditangkap terkait kasus korupsi tersebut. Indonesia memiliki ragam kekayaan budaya dan adat istiadat yang lebih penting untuk digaungkan dibanding kabar penangkapan.

"Kita sudah dapat given, karunia Sang Maha Pencipta berupa-rupa. Dari mulai kearifan lokal, adat istiadat, budaya yang kita miliki. Ini given (pemberian) sebenarnya yang harus kita lihat dengan nilai positif. Jangan terus menerus kita hanya melihat si A ditangkap, si B masuk penjara. Sudah capek negeri ini setiap hari hanya itu yang kita konsumsi," lanjut dia.

Surya Paloh menyebut, tidak ada yang dapat dibanggakan dari kabar-kabar penangkapan figur tertentu karena dugaan terlibat kasus korupsi.

"Kepala daerah ditangkap, menteri dikejar, ini ditangkap, itu ditangkap, bangsa apa ini? Untuk dan atas nama pemberantasan korupsi seakan-akan kita merasa paling hebat," ucap Surya Paloh.

Ia menilai, ketika figur tertentu telah diamankan aparat penegak hukum akibat terlibat kasus korupsi, semua pihak akan menilainya sebagai 'orang jahat'.

"Tidak ada sensitifitas lagi, perasaan empati, kasihan, karena semuanya itu 'orang jahat' kita anggap. Terlepas dulu dia salah atau tidak salah," katanya.

Ia pun berkelakar, kesalahan kecil bisa menjadi kesalahan besar. Sedangkan, kesalahan besar terkadang dapat hilang begitu saja. "Salah kecil bisa jadi salah besar. Tapi di sisi lain, salah besar bisa hilang juga," ucap Surya Paloh. (tribunnews)

 

 

Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved