Berita Bali
Kelestarian Air Harus Dijaga di Bali, Ini Paparan Ekonom Senior Drajad Wibowo
jangan sampai terjadi dampak kerusakan lingkungan, tidak merusak hutan serta alam termasuk di Bali yang tidak harus bergantung pada turis saja.
Penulis: Zaenal Nur Arifin | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Hiliriasi menjadi hal penting dalam pertumbuhan perekonomian Indonesia menjadi lebih baik.
Jika hilirisasi tidak dilakukan, potensi kehilangan pendapat negara termasuk dari masyarakat akan sangat besar.
Hal ini diungkapkan oleh ekonom senior Insttitute for Development of Economic and Finance (INDEF) Dradjad Wibowo, saat kuliah umum di Fakultas Pertanian Universitas Udayana Bali, pada Rabu 9 September 2024.
“Saya sudah tunjukkan hilirisasi kayu lapis itu hasilnya sangat besar sekali tapi karena kita tidak menjaga kelestarian akhirnya ambles industrinya. Saya juga sudah tunjukkan migas kita tidak melakukan hilirisasi, kita kehilangan potensi ekonomi besar sekali. Bukan hanya dulu tapi sekarang. Efeknya kan industri tekstil kita ikut jadi korban karena kita tidak punya industri PET (Polyethylene Terephthalate),” ujar Drajad.
Baca juga: DESA Pangkungparuk Buleleng Krisis Air Bersih! Ratusan KK Terdampak, BPBD Suplai 20 Ribu Liter
Indonesia, lanjutnya lagi harus impor dari Singapura karena tidak ada pengilangan minyak yang bagus.
Hal ini menyebabkan kerugian negara yang cukup panjang.
Pada sektor pertanian, Dradjad menambahkan tentu saja menjadi hal penting untuk dilakukannya hilirisasi atau proses pengolahan bahan baku mentah menjadi barang jadi yang memiliki nilai tambah lebih tinggi.
“Pertanian itu berasal dari sumber daya yang terbarukan, kita tidak bisa mengulangi kesalahan yang terjadi pada industri kayu lapis. Kita harus belajar dari industri bubur kertas, memenuhi syarat kelestarian tapi bukan syarat kelestarian Indonesia saja, termasuk syarat kelestarian yang ada di dunia,” lanjut Ketua sekaligus Pendiri Indonesia Forestry Certification Cooperatiaon (IFCC) ini.
Hilirisasi pada sektor pertanian harus memenuhi tiga syarat kelestarian.
Antara lain lestari produksi, lestari sosial serta lestari ekologi lingkungan.
Lestari produksi kata Dradjad dilihat dari sisi ekonominya sementara lestari sosial harus melibatkan masyarakat adat dan tak ada diskriminasi gender.
Kemudian lestari ekologi, jangan sampai terjadi dampak kerusakan lingkungan, tidak merusak hutan serta alam termasuk di Bali yang tidak harus bergantung pada turis saja.
“Bali itu sumbernya ikan, jeruk, kopi, kayu juga ukir-ukiran. Intinya, jangan melihat kelestarian sebagai biaya karena sudah terbukti kelestarian itu adalah sumber pertumbuhan. Bali sangat krusial karena Bali tergantung dengan turis. Turis perlu air, kalau Bali tidak menjaga kelestarian air lama-lama orang jadi tidak mau ke Bali karena kurang air,” ujarnya.
“Belum lagi air untuk kebutuhan penduduk. Kelestarian air harus dijaga di Bali. Turis sebagian datang ke Bali karena alam, karena mereka suka sawah yang cantik, lihat pantainya yang bagus dan lain sebagainya. Kalau itu tidak dijaga turis akan kabur. Kelestarian menjadi sumber bagi pertumbuhan,” sambung Dradjad.
Ia menambahkan, Pemerintah Daerah (Pemda) Bali perlu bekerja sama dengan Pemerintah Pusat untuk memastikan daya dukung, air di Bali itu seberapa besar dibanding dengan populasinya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Kelestarian-Air-Harus-Dijaga-di-Bali-Ini-Paparan-Ekonom.jpg)