Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Bali

Karena 'Sukla', Pj Gubernur Nilai Harga Beras Bali Harusnya Lebih Mahal

Mahendra Jaya menyoroti rendahnya nilai tukar petani di Bali sebagai tantangan serius. 

minthu
Ilustrasi beras - Karena 'Sukla', Pj Gubernur Nilai Harga Beras Bali Harusnya Lebih Mahal 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR — Beras jadi salah satu penyumbang inflasi di Bali. 

Dan Bali memiliki tantangan tersendiri terkait nilai tukar petani yang masih rendah dibandingkan dengan rata-rata nasional, serta mahalnya ongkos produksi di daerah ini. 

Hal tersebut disampaikan oleh PJ Gubernur Bali, Sang Made Mahendra Jaya, pada saat hadir di Diklatda BPD HIPMI Bali, berlokasi di Kampus Universitas Primakara, Sabtu 7 September 2024. 

"Inflasi salah satu penyumbangnya adalah sektor pangan. Kami tidak cepat-cepat mengintervensi begitu harga beras naik, karena nilai tukar petani Bali dibandingkan rata-rata nasional jauh sekali, kita di bawah 100. Kalau saya intervensi, petani bisa menangis karena ongkos produksi di Bali jauh lebih mahal," jelas Mahendra. 

Baca juga: Masa Jabatan PJ Gubernur Bali Mahendra Jaya Diperpanjang, Akan Fokus Awasi Pilkada 

Ia menjelaskan bahwa mahalnya biaya produksi di Bali disebabkan oleh faktor kearifan lokal yang sangat kental. 

Proses penanaman hingga panen beras Bali melalui berbagai ritual upacara yang harus dihormati, menjadikan beras Bali sebagai beras "sukla" atau beras penuh berkat.

"Beras Bali ini beras sukla, mau nanam ada upacara, panen ada persembahyangan, nyimpen ada persembahyangan, jadi produksi harus lebih mahal dari daerah lainnya. Sayangnya, kearifan lokal ini belum ada sosialisasi yang baik. Beras Bali ini beras penuh berkat, dan kalau harganya disamakan dengan beras lainnya, sayang sekali," jelasnya.

Ia juga menyoroti bagaimana beras Bali yang tidak diproses secara lokal justru dikirim ke Jawa untuk digiling, sehingga yang kembali bukan lagi beras Bali asli. 

Hal ini merugikan potensi beras Bali yang unik dan berkualitas tinggi.

Disamping itu, Mahendra Jaya menyoroti rendahnya nilai tukar petani di Bali sebagai tantangan serius. 

Sebagian besar petani di Bali bukan pemilik lahan, melainkan hanya penggarap. 

Oleh karena itu, Pj Gubernur berharap agar sektor pertanian di Bali dapat menjanjikan masa depan yang lebih baik bagi para petani, dengan meningkatkan produktivitas dan teknologi yang diterapkan.

"Sebagian besar petani Bali bukan pemilik lahan, ini jadi salah satu faktor mengapa lahan pertanian semakin sedikit. Kita ingin ke depan sektor pertanian menjadi lebih menjanjikan, dengan petani-petani yang keren, menggunakan teknologi, dan hasil produksinya tinggi. Produk Bali, termasuk beras sukla, harus dihargai lebih tinggi," tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya hilirisasi di sektor pertanian, agar para petani dapat menjadi subjek dalam proses produksi dan mendapatkan keuntungan yang lebih besar.

"Bayangkan, gabah saat dipanen harganya hanya Rp 4.000-an, tapi setelah digiling menjadi Rp 6.000-Rp 7.000, dan ketika menjadi beras, harganya melonjak hingga Rp 16.000. Jauh sekali perbedaannya. Hilirisasi ini harus dikuatkan, para petani harus menjadi subjek utama dalam proses ini," tutupnya. 

Kumpulan Artikel Bali

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved