Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Travel

KELIKI Sulap Diri Jadi Desa Wisata Berbasis Lingkungan, Pilah Sampah Hingga Pakai Panel Surya

Namun siapa sangka, menapaki diri menjadi desa wisata, mengharuskan Keliki banyak berbenah. Khususnya berbenah dengan menjaga alam dan lingkungan.

ISTIMEWA
TPS3R tempat pengolahan sampah di Desa Keliki. 

TRIBUN-BALI.COM Desa Keliki, Kabupaten Gianyar, Bali, menjadi destinasi wisata anyar yang kian terkenal saat ini.

Namun siapa sangka, menapaki diri menjadi desa wisata, mengharuskan Keliki banyak berbenah. Khususnya berbenah dengan menjaga alam dan lingkungan.

Ketut Wita, Kepala Desa Keliki, menjelaskan bahwa mindset warganya dahulu adalah tantangan besar dalam perjalanan desanya menjadi destinasi wisata.

“Dulu mindset masyarakat di sini (Keliki), belanja lalu sampahnya buang sembarangan. Banyak yang mencemooh juga, bahkan saya sampai pernah dilaporkan,” katanya dalam kunjungan rombongan media bersama AJI Denpasar dan Nexus ke Desa Keliki, Minggu 8 September 2024.

Baca juga: ISU Lingkungan & Emisi Disarankan Jadi Topik Debat Pilkada Bali 2024, Luhut Sentil Masalah Sampah!

Baca juga: Konsep Tri Hita Karana & Bantuan Desa Adat Kedonganan, Griya Luhu Ajak Warga Pilah Sampah di Rumah

Ketut Wita, Kepala Desa Keliki, menjelaskan bahwa mindset warganya dahulu adalah tantangan besar dalam perjalanan desanya menjadi destinasi wisata.
Ketut Wita, Kepala Desa Keliki, menjelaskan bahwa mindset warganya dahulu adalah tantangan besar dalam perjalanan desanya menjadi destinasi wisata. (ISTIMEWA)

Sudah 4 tahun kepala desa yang dulunya mantan satpam ini menjabat, walau demikian ia tidak patah arang. Pihaknya pun membentuk kader kebersihan dan Pokdarwis, serta membentuk tim pelaksana kegiatan TPS3R.

Masalah lain datang, tidak ada yang mau mengurusi sampah, alasan tidak ada upah dan takut akan bau yang menggangu menjadi dalih saat itu. “Saya minta tolong adik saya, ya biar pun upah kecil, tapi kami akan usahakan anggarannya,” jelasnya, sembari mengatakan bahwa Desa Keliki terdiri dari 2 desa adat.

Desa Adat Keliki dengan 7 banjar dan Desa Adat Subali dengan 3 banjar. Keinginan agar Desa Keliki berkembang, juga dimulai dengan penataan kuburan di dekat area Subak Lauh Batu. “Dana sukarela dari masyarakat, kemudian warga juga diperbantukan untuk membantu penataan pura dalem kami,” sebutnya.

Kemudian di dekat pura dalem tersebut, ada area yang dibangun TPS3R, untuk pengelolaan sampah warga. “Saya punya visi-misi, Desa Keliki asri, aman, sehat, dan indah. Kalau banyak sampah di jalan kan gak bagus ya,”tegasnya.

Tidak hanya itu, ia juga memberdayakan warga agar menjadi tuan rumah di tanahnya sendiri. Serta memperketat investor jika ingin membangun di wilayah Keliki. “Saya tidak mau seperti wilayah lain, jangan sampai masyarakat malah jadi penonton di wilayahnya sendiri,”ujar pria yang 26 tahun bekerja di Ubud ini.  

Ia ingin penduduk Desa Keliki yang jumlahnya sekitar 5.000an, menjadi pemilik atas tanahnya sendiri. Walaupun saat ini 80 persen masih aktif menjadi petani, selain sebagai buruh bangunan dan proyek. Hal itu juga diikat oleh pararem (aturan), khususnya di Subak Lauh Batu.

Subak Lauh Batu, subak terkecil di Keliki. Kini menjadi destinasi wisata andalan baru di Gianyar.
Subak Lauh Batu, subak terkecil di Keliki. Kini menjadi destinasi wisata andalan baru di Gianyar. (ISTIMEWA)

Pengelolaan Sampah Dengan TPS3R

I Wayan Sumada, Ketua Bumdes Yowana Bakti Keliki, menjelaskan kilas sejarah pengelolaan sampah di Keliki.

“Bumdes Yowana Bakti Keliki adalah bagian unit usaha, kami di sini ada simpan pinjam dan totalnya 5 usaha, termasuk pengelolaan sampah ini,” katanya.

Sejarah TPS3R, kata dia, awalnya ada karena masalah kebersihan lingkungan, mengingat Keliki menjadi daerah wisata.

“Jadi turis komplain tentang lingkungan dan sampah plastik. Apalagi pas hujan sampah sampai meluber ke jalan,” katanya.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved