Berita Bali
Konsep Tri Hita Karana & Bantuan Desa Adat Kedonganan, Griya Luhu Ajak Warga Pilah Sampah di Rumah
Masalah sampah harus menjadi atensi semua pihak. Harusnya sampah dipilah sejak di rumah tangga. Sehingga tidak ada penumpukan di TPA.
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
TRIBUN-BALI.COM - Masalah sampah harus menjadi atensi semua pihak. Harusnya sampah dipilah sejak di rumah tangga. Sehingga tidak ada penumpukan di TPA.
Impian ini yang diharapkan Griya Luhu. Sang CEO bernama, Alfina Febrilia, menjelaskan bahwa Griya Luhu adalah konsep rumah sebagai tempat pemilahan sampah, yang luhur dan humanis.
"Griya Luhu adalah NGO, yang fokus memberdayakan masyarakat lokal. Masyarakat harus jadi subjek dan masyarakat yang gerak untuk pengelolaan sampah. Sehingga kami tahu kondisi di masyarakat, karena kami turun ke lapangan. Pengelolaan sampah di tiap desa beda dan tidak sama. Baik pendanaan biaya, geografisnya berbeda," jelasnya di acara New Energy Nexus Indonesia & AJI Denpasar: Pelatihan & Fellowship untuk Jurnalis Muda di Bali, 7-8 September 2024.
Salah satunya seperti Desa Adat Kedonganan, yang telah diajak kerjasama oleh Griya Luhu untuk membereskan sampah sejak dari rumah tangga.
Baca juga: Polisi Grebek Spa Plus-Plus di Seminyak Bali, Manajer dan Terapis Diamankan
Baca juga: ISU Lingkungan & Emisi Disarankan Jadi Topik Debat Pilkada Bali 2024, Luhut Sentil Masalah Sampah!
Kerjasama itu dengan pemilahan 3 jenis sampah sejak dari rumah tangga, yaitu sampah organik, sampah daur ulang dan sampah residu. "Terkadang kami juga sebut sampah material," katanya.
Pihaknya dibantu perusahaan, di mana sistem tidak seperti bank sampah. Orang yang menghasilkan sampah maka dia yang bayar. "Mereka membayar tenaga pengelolaan sampahnya, meniru sistem di Korea, Jepang dan negara maju lainnya," jelasnya.
Sistem itu, dibuat dengan pendekatan ke desa adat dengan sanksi sosial adat kuat di Bali. "Di sana kami buat aplikasi untuk menilai pemilihan sampah di masyarakatnya, jadi setiap rumah diberikan kantong tiga tong, sampah hijau untuk organik, biru untuk sampah daur ulang, merah untuk sampah residu. Ada QR Code saat petugas mengambil melalui aplikasi pemilahan baik atau tidak," jelasnya.
Itu terus dilakukan dan diakumulasi dengan poin 1 sampai minus 1, tiga tertinggi akan diajak tirta yatra. "Terlepas agama apapun akan diajak, karena konsep tirta yatra rekreasi dari masyarakat dan petugasnya. Di sini melalui tirta yatra terbangun komunikasi mereka, seperti ke pura yang tinggi yang butuh tangga. Gara-gara tirta yatra pemilahan mereka meningkat. Ada yang nilainya kurang dan tinggi," sebutnya.(ask)
Gudang Garmen di Denpasar Ludes Terbakar, Simpen dan Yasa Alami Luka Bakar |
![]() |
---|
AKAN PECAT 2 Petugas Imigrasi Bali, Menteri Imipas: Jika Terbukti Bantu Geng Rusia Kasus Peras Culik |
![]() |
---|
Sasana Darmawan Klub Siap Dukung Penuh Petinju Muda Bali Surya Dharma Mendunia |
![]() |
---|
DIALOG Alot Berujung Baik, Istri Budiasa Alami Depresi & Mau Diajak ke RSJ Bangli |
![]() |
---|
Polda Bali Gelar Apel Operasi Patuh Agung 2025, Kapolda Beri Peringatan Pengendara Pakai HP |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.