Travel
KELIKI Sulap Diri Jadi Desa Wisata Berbasis Lingkungan, Pilah Sampah Hingga Pakai Panel Surya
Namun siapa sangka, menapaki diri menjadi desa wisata, mengharuskan Keliki banyak berbenah. Khususnya berbenah dengan menjaga alam dan lingkungan.
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
Kala itu, baru ada 1 unit truk dari desa dan hanya angkut, buang, ambil sampah saja dari masyarakat di Desa Keliki ke TPA di Desa Temesi.
Pada tahun 2020-2021, Kementerian PUPR memberikan bantuan untuk TPS3R ini. “Tahun 2021 kami berproses, karena image masyarakat saat itu tempat pengolahan sampah adalah TPA. Sehingga sebagian masyarakat tidak mau terima ide TPS3R ini, dikira bakal jadi tempat sampah yang menjijikan. Sehingga dari awal kami memberikan edukasi,” ujarnya.
Didampingi yayasan, desa kemudian membangun TPS3R dan tempat mengolah sampah berbasis sumber, dengan visi misi membangun TPS3R yang asyik bukan jijik.
Dengan struktur bangunan nyaman untuk bermain. Kemudian disediakan tempat memancing di area TPS3R, warga kemudian satu per satu mulai datang dan bisa menerima lokasi ini sebagai tempat pengolahan sampah. “Nah saat mereka datang, mereka lihat sendiri bahwa tidak ada bau dan tidak menjijikan,” jelasnya.
Bahkan kini, anak-anak pun nyaman bermain di area TPS3R itu, di mana berdekatan dengan pura dalem dan Subak Lauh Batu.
Untuk kian meyakinkan masyarakat, dibentuklah kader kebersihan dengan merekrut 21 ibu-ibu untuk mengedukasi warga. Peran ibu di rumah tangga sangat penting, sehingga diharapkan kader-kader ini akan mampu mengedukasi warga tentang pentingnya memilah sampah dari rumah.
Maksudnya, dibedakan antara sampah organik, non organik, dan sampah residu (belum bisa didaur ulang). “Yang buat bau kan karena sampah dicampur, kalau dari rumah dipisah maka aman tidak mau dan kotor,” tegasnya.
Panel Surya Bantu Pengairan Sawah di Subak Lauh Batu
Tidak hanya pengolahan sampah, mempertahankan subak juga menjadi agenda Desa Keliki sebagai basis wisatanya.
Image wisata berbasis lingkungan dan penjagaan pada alam menjadi atensi, dan tidak hanya sekadar wacana saja.
Sebab di subak pun menggunakan panel surya sebagai basis listriknya. Wayan Sember, Anggota Pokdarwis Dewi (Desa Wisata) Keliki, menjelaskan bahwa ada 8 titik panel surya di Desa Keliki.
Satu diantaranya terpasang di Subak Lauh Batu. “Jadi 8 panel surya, 7 di subak dengan kapasitas 2.500 WATT, kemudian 1 di TPS3R dengan kapasitas sekitar 10.000 WATT lengkap dengan baterai,” jelasnya.
Panel surya itu adalah CSR dari Pertamina tahun 2022. Sehingga listrik yang didapatkan sangat ramah lingkungan. Tujuan panel surya di subak, adalah membantu pengairan, khususnya saat musim kemarau. Di mana air diambil dari pompa sumur bor.
“Semenjak ada panel surya ini, kami bisa menghemat sejuta per bulan setelah dulu pake listrik PLN,” katanya. Total sawah di Desa Keliki, luasannya 500 hektare dari 7 subak. Subak Lauh Batu menjadi subak terkecil dengan luasan sekitar 24 hektare. (ask)
| BERTEMU Gubernur Bali, Bali Villa Connect 2026 Sebut Masih Banyak Akomodasi Tidak Mendaftar Resmi |
|
|---|
| TURIS Naik Tapi Tak Sejalan dengan Okupansi, Cok Ace Jelaskan Alasan & Harapan Bagi Pariwisata Bali |
|
|---|
| TIKET Pesawat Melambung Tinggi, Rute Bali-Jakarta Tembus Rp14 Jutaan, Kunjungan Terancam Tertekan! |
|
|---|
| PLESIRAN Tenang! Tiket Masuk Desa Penglipuran Bali Kini Sudah Termasuk Asuransi Personal Accident |
|
|---|
| Gairahkan Sport Tourism, ASITA Bali Gelar 'Bali Tourism Run 2026' di Jatiluwih Juni Mendatang |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/wevgehbehrtj.jpg)