Berita Bali
Meneguhkan Simfoni Budaya: Menggali Kembali Warisan Bersama India dan Indonesia
Konferensi Internasional "Gema Melintasi Gelombang: Refleksi atas Persimpangan Warisan Budaya India dan Indonesia" berlangsung 14-15 September 2024.
TRIBUN-BALI.COM - Konferensi Internasional "Gema Melintasi Gelombang: Refleksi atas Persimpangan Warisan Budaya India dan Indonesia" yang berlangsung pada tanggal 14 dan 15 September di Hyatt Regency, Bali, diinisiasi oleh Konsulat India di Bali, Maulana Abul Kalam Azad Institute of Asian Studies (MAKAIAS), Kementerian Kebudayaan Pemerintah India, serta Institute of Social and Cultural Studies (ISCS).
Acara ini menandai peringatan 75 tahun hubungan diplomatik antara India dan Indonesia dengan menyoroti jalinan budaya yang telah terjalin erat selama berabad-abad.
Pada hari pembukaan, 14 September, konferensi dimulai dengan pameran bertajuk "The Indonesian Odyssey of Rabindranath Tagore", yang dikurasi oleh Arindam Mukherjee, Direktur ISCS. Pameran ini mengeksplorasi pertukaran dalam sejarah, bahasa, agama, dan seni antara kedua negara.
Acara tersebut dibuka secara resmi oleh Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty, yang menyambut hangat para peserta dari kedua negara.
Ia mengungkapkan pentingnya memperkuat forum-forum penelitian yang berkolaborasi dengan Konsulat India di Bali guna memperdalam diskusi terkait budaya dan kesamaan dalam bidang makanan, tekstil, seni, dan kerajinan.
Dalam pidatonya, Chakravorty menekankan pentingnya kebijakan yang dapat memperluas kolaborasi serta membangun inisiatif konkret dalam menghubungkan masyarakat India dan Indonesia di masa depan.
Dalam pidato lainnya, Dr. Shashank Vikram, Konsul Jenderal India di Bali, menggarisbawahi bahwa konferensi ini berperan penting dalam memfasilitasi diskusi akademis dan penelitian terkait warisan budaya yang menghubungkan kedua negara.
Baca juga: Dorong Pelestarian Nilai Adat dan Seni Budaya, Pemkot Denpasar Tingkatkan Penerimaan BKK Desa Adat
Direktur MAKAIAS, Dr. Sarup Prasad Ghose, lebih lanjut menekankan aspek komersial dan perdagangan, sementara Arindam Mukherjee dari ISCS menyoroti warisan maritim yang kaya sebagai salah satu ikatan kuat antara India dan Indonesia.
Inisiatif seperti ini, menurut Mukherjee, membuka peluang untuk memperluas pertukaran ekonomi dan budaya secara signifikan.
Konferensi ini juga menampilkan berbagai sesi akademik, termasuk "Gelombang Pertukaran: Menjelajahi Rute Perdagangan Maritim Kuno di Samudra Hindia" dan "Pertemuan Ilahi: Menelusuri Tradisi Hindu-Buddha Indonesia".
Topik lain yang diangkat meliputi "Bahasa dan Sastra: Analisis Komparatif Tradisi Linguistik dan Sastra", "Dari Sapuan Kuas hingga Campuran Rempah: Menelusuri Inovasi Budaya dalam Seni-Kerajinan dan Masakan", serta "Dialog Berirama: Menjelajahi Tradisi Tari, Musik, dan Teater India dan Indonesia".
Setiap sesi diisi oleh akademisi terkemuka dan tokoh masyarakat sipil dari kedua negara, yang memberikan pandangan mendalam tentang kekayaan warisan budaya bersama.
Selain sesi akademik, acara ini juga menyuguhkan berbagai pameran, termasuk lukisan, manuskrip, filateli, wayang, dan topeng tradisional, yang memperkaya pengalaman peserta akan hubungan budaya India dan Indonesia.
Melalui berbagai dimensi, acara ini membuka wawasan baru tentang interaksi budaya kedua bangsa.
Sebagai bagian dari upaya memperkuat kerja sama akademis, tujuh nota kesepahaman ditandatangani antara ISCS, MAKAIAS, serta berbagai universitas dan lembaga pendidikan di Bali seperti Universitas Dwijendra, Universitas Pendidikan Ganesha, dan Politeknik Negeri Bali.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Konferensi-Internasional-Gema-Melintasi-Gelombang.jpg)