Berita Nasional
Mencapai Indonesia Merdeka
apakah bangsa Indonesia sudah benar-benar merdeka sesuai cita-cita dalam pembukaan UUD 1945?
TRIBUN-BALI.COM - Setelah pendiri bangsa memproklamirkan kemerdekaan 17 Agustus 1945, apakah bangsa Indonesia sudah benar-benar merdeka sesuai cita-cita dalam pembukaan UUD 1945, konstitusi tertulis kita?
Ini adalah pertanyaan yang selalu berkecambuk dalam hati sanubari setiap anak bangsa. Walau secara de facto dan de jure Indonesia bukan hanya sebagai bangsa tetapi telah resmi berdiri sebagai sebuah Negara pada tanggal 18 Agustus 1945 setelah seluruh perangkat, syarat-syarat berdirinya sebuah negara terpenuhi.
Baca juga: Karya Pura Agung Jagatnatha, Bhakti Penganyar OPD Pemkot Denpasar Berlangsung Hingga 22 November
Adanya sebuah wilayah teritorial, penduduk dan aturan perangkat hukum yakni UUD 1945 dan dasar negara Pancasila, adanya sebuah pemerintahan yang sah dan diakui oleh negara-negara lain di dunia, yakni dalam hukum internasional telah berdirinya sebuah Negara.
Prof. Pieter J. Veth (1814- 1895) berkebangsaan Belanda ahli Etnologi dan Bahasa Indonesia, dalam bukunya "Java, Geografisch atnologisch" menulis bahwa sebenarnya Indonesia tidak pernah merdeka.
Baca juga: Generasi Muda Bali Minta Koster-Giri Lestarikan Bali dengan Nangun Sat Kerti Loka Bali
Dari jaman purbakala sampai sekarang, dari jaman ribuan tahun sampai sekarang dari jaman Hindu sampai sekarang, yang menurut Prof. Veth, Indonesia senantiasa menjadi negeri jajahan.
Mula-mula jajahan Hindu kemudian jajahan Islam, lalu jajahan Belanda. Dalam bukunya Prof. Veth menulis dalam syairnya yang berbunyi: Aan Java' Strand Verdrongen Zich de Volken, Steeds Daagden Nieuwe Meesters Over't Meer Zij Volgden op Elkaar, Gelijk Aan't Zwerk de Wolken, De Telg Des Land Allen Was Nooit Zijn Heer"
Yang artinya, "Di pantai tanah Jawa, rakyat berdesak desakan, datang selalu tuan tuanya di setiap masa, mereka beruntung-runtun sebagai tuntunan awan, tapi anak pribumi sendiri tak pernah kuasa".
Walau pendapat dari Prof. Pieter J Veth tersebut tidak semuanya benar, karena tidak begitu jalan nya sejarah bangsa ini sebelum Indonesia merdeka.
Ribuan tahun lalu pada abad pertama Masehi, awalnya memang Raja di Kerajaan Salaka Nagara adalah orang Hindu dari India, kemudian berangsur-angsur terjadi tranformasi pendidikan budaya dan kekuasaan kepada kaum pribumi yang beragama Hindu.
Demikian juga saat Islam masuk pada abad ke-14 yang dibawa oleh Raden Rahmat Sunan Ampel, merupakan keturunan dari Sayyid Ali Zainal Abidin Usbekistan dan keturunan kerajaan Campa. Terjadi perkawinan silang dengan Ratu Pakasi dari Kerajaan Singosari di Jawa Timur, bukan merupakan orang Arab dan bukan seratus persen orang Asing, tapi campuran pribumi. Kemudian terjadi perkawinan dengan wanita-wanita pribumi dan melahirkan keturunan keturunan pribumi.
Sedang Raja-raja yang memerintah kerajaan di Jawa seluruhnya adalah berdarah keturunan pribumi. Hanya saja kultur masyarakatnya yang mudah sekali menerima hal yang baru dan dipadukan dengan keyakinan dan budaya lama, maka seakan-akan bangsa pribumi selalu sebagai obyek jajahan dari bangsa lain.
Melihat fenomena masa kini, dimana batas dan sekat antar negara seolah-olah sudah tidak ada, telah terjadi perdagangan bebas, adanya teknologi informasi yang begitu canggih hingga seluruh manusia di muka bumi bisa terhubung tanpa ada hambatan dan larangan, dengan kiblat ekonomi negara yang sudah tidak lagi pada kiblat awal sebagai bangsa yang berorientasi pada ekonomi kerakyatan. Sudah menganut ekonomi liberal dengan sistem kapitalis, dimana yang kuat akan menggilas yang lemah sebagaimana sesuai hukum alam dalam ekonomi kapitalis.
Demikian juga kebudayaan, dengan derasnya pengaruh budaya luar lewat media masa baik elektronik maupun cetak, media sosial yang sulit dibendung, dan kurangnya perhatian pada orang tua yang melupakan ajaran luhur dari leluhur dan regulasi untuk mengatur secara jelas lewat kebijakan Pendidikan.
| Laras Divonis Bebas Bersyarat oleh Hakim Ketut Darpawan, Terdakwa Penghasutan Bakar Mabes Polri |
|
|---|
| 17 Libur Nasional dan 8 Cuti Bersama di Tahun 2026, Nikmati Long Weekend Saat Tahun Baru Imlek |
|
|---|
| SATU Jenazah Dikremasi di Bali, Korban Kapal Tenggelam di Labuan Bajo Dikirim ke Negara Asal! |
|
|---|
| Mendagri Tito Karnavian Percepat Pembangunan 1.000 Huntap untuk Korban Bencana di Aceh |
|
|---|
| Mendagri Tito Koordinasi, Himpun Bantuan Pemerintah Rp 48 Miliar untuk Bencana Sumatera |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Agus-Widjajanto-new2.jpg)