UMKM Bali

Cerita UMKM Domu Wire Craftsman di Denpasar, Karya Seni Warisan Sumba Tembus Pasar Mancanegara

Usaha ini didirikan dan dijalankan Domu (32), Jefry (31), dan sejumlah rekan mereka yang juga berasal dari Sumba.

TRIBUN BALI/MADE WIRA ADI SAPUTRA
Kreasi – Para perajin membuat kreasi produk UMKM di Domu Wire Craftsman yang berlokasi di Jalan Buana Raya Gang Buana Ayu No. 5A, Denpasar. 

TRIBUN-BALI.COM - Domu Wire Craftsman adalah sebuah usaha UMKM yang menghidupkan kembali seni tradisional khas Sumba dalam bentuk kerajinan tangan berupa anyaman kawat tembaga, kuningan, dan stainless steel. 

Domu Wire Craftsman yang berlokasi di Jalan Buana Raya Gang Buana Ayu No. 5A, Denpasar memproduksi perhiasan hingga dekorasi. Produknya memiliki daya tarik unik yang mencerminkan keindahan dan kekayaan budaya Sumba.

Usaha ini didirikan dan dijalankan Domu (32), Jefry (31), dan sejumlah rekan mereka yang juga berasal dari Sumba.

Mereka membawa semangat dan warisan budaya kampung halaman mereka ke dalam setiap karya yang dihasilkan, terutama melalui anyaman kawat tradisional yang dikenal sebagai Lulu amah. 

Lulu amah adalah atribut tradisi dari daerah Sumba yang menjadi inspirasi awal berdirinya Domu Wire Craftsman.

Baca juga: 5 Korban Jiwa dan Kerugian Rp1 M, BPBD Bali Rilis Dampak Cuaca Ekstrem Sepekan Akibat Hujan Deras

Baca juga: UMK Denpasar Jadi Rp 3,2 Jutaan, Kabupaten/Kota se-Bali Tetapkan Besaran UMK Tahun 2025

Domu Wire Craftsman adalah sebuah usaha UMKM yang menghidupkan kembali seni tradisional khas Sumba dalam bentuk kerajinan tangan berupa anyaman kawat tembaga, kuningan, dan stainless steel. 
Domu Wire Craftsman adalah sebuah usaha UMKM yang menghidupkan kembali seni tradisional khas Sumba dalam bentuk kerajinan tangan berupa anyaman kawat tembaga, kuningan, dan stainless steel.  (TRIBUN BALI/MADE WIRA ADI SAPUTRA)

Usaha ini lahir dari gagasan kreatif Umbu Nai Riku, seorang kakak senior yang lebih dulu menekuni seni anyaman kawat ini. 

Inspirasi untuk mengembangkan Lulu amah menjadi produk-produk inovatif muncul ketika pada awal tahun 2000-an.

Umbu bertemu dengan seorang wisatawan mancanegara asal Italia yang tertarik dengan bentuk tradisional Lulu amah. Kemudian, wisman tersebut bertanya apakah mungkin mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih modern, seperti topi. Dari sini, ide-ide kreatif mulai berkembang.

“Awalnya pada tahun 2000-an kakak senior saya itu bertemu dengan seorang turis asal Italia yang menanyakan apa bisa Luluamah ini dibuat menjadi versi lain yaitu topi. Kemudian ia membuat seperti bentuk topi itu dan ternyata cukup disukai. Dari sini kakak senior memanggil saya dan kawan-kawan untuk mulai bisnis ini bersama,” ungkap Domu.

Seiring berjalannya waktu, pesanan mulai berdatangan dengan variasi produk yang semakin beragam. Mereka mulai membuat lampion, tas, cincin, kalung, anting-anting, dan banyak lagi.  

Keberagaman produk ini menunjukkan betapa fleksibel dan kreatifnya tim Domu Wire Craftsman dalam mengolah kawat menjadi karya seni yang bernilai tinggi.

Pada tahun 2017, setelah bertahun-tahun mengasah keterampilan dan pengalaman bersama seniornya tersebut, Domu memutuskan untuk mendirikan usaha sendiri dengan nama Domu Wire Craftsman.

Keputusan ini terbukti tepat, karena tidak lama kemudian hasil karyanya mulai dikenal luas melalui berbagai toko oleh-oleh di Bali, serta promosi lewat Instagram dan website resmi mereka. 

Perajin anyaman kawat yang mengusung nilai budaya Sumba ini juga sangat sedikit di Bali, sehingga membuat produk-produk Domu Wire Craftsman mudah mendapatkan perhatian.

“Waktu awal-awal, kita gencar-gencar promosi di Instagram, terus juga sedikit-sedikit kita titip di toko souvenir. Dari sana kita mulai dikenal. Bule-bule (wisatawan) itu terutama suka sekali produk lampion. Kita juga sudah ekspor ke China, Jerman, Italia, dan Turki,” ujar Domu.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved