Tips Kesehatan

Orang Tua Diminta Stop Gunakan Standart Tiktok Untuk Diagnosa Kesehatan Mental Anak

dr. Jendra mengatakan ketika anak diusia 2-3 tahun mengalami tantrum merupakan hal yang sangat wajar. 

Tribun Bali/Ni Luh Putu Wahyuni Sari
Ida Bagus Jendra Wijaya selaku Psikolog Klinis tugas di RSJ Provinsi Bali dan Denpasar Mental Health Care saat mengisi acara talkshow di kampanye Tjakap Djiwa dengan tema ‘The Joyfull Journey’, pada Sabtu 25 Januari 2025 - Orang Tua Diminta Stop Gunakan Standart Tiktok Untuk Diagnosa Kesehatan Mental Anak 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Penyebaran informasi mengenai kesehatan mental acapkali mudah diakses oleh siapa pun di sosial media saat ini. 

Hal ini berdampak pada orang tua yang dengan mudahnya mendiagnosa atau melabeli buah hatinya dengan gangguan mental tertentu, padahal belum tentu anaknya mengidap gangguan mental tersebut. 

Ida Bagus Jendra Wijaya selaku Psikolog Klinis tugas di RSJ Provinsi Bali dan Denpasar Mental Health Care saat mengisi acara talkshow di kampanye Tjakap Djiwa dengan tema ‘The Joyfull Journey’, pada Sabtu 25 Januari 2025 mengatakan orangtua saat ini mudah mendiagnosa anak-anaknya dengan gangguan mental. 

“Pak anak saya kayaknya ADHD deh aktif banget, sepertinya emosinya terganggu soalnya emosinya gampang meledak-ledak. Ketika ditanya usia anaknya 2-3 tahun. Apa yang Anda harapkan dari anak usia 2-3 tahun?,” kata dr. Jendra. 

Baca juga: Pulihkan Kondisi Mental Korban, Dinsos Buleleng Beri Pendampingan Psikolog Pada KD

Padahal lebih lanjutnya dr. Jendra mengatakan ketika anak diusia 2-3 tahun mengalami tantrum merupakan hal yang sangat wajar. 

Sebab itu merupakan masa perkembangan Amigdala, di mana otak berkaitan dengan pengelolaan emosi sehingga ledakan emosi wajar. 

Bahkan penelitian terbaru menunjukkan wajar anak mengalami tantrum karena itu akan menunjukkan bahwa anak memiliki percaya diri untuk ekspresikan dirinya tetapi karena belum bisa bicara akhirnya berteriak. 

“Tugas psikolog saat ini mengklarifikasi hal tersebut kalau bisa standart Tiktok dikurangi lebih baik langsung berbicara dengan profesionalnya langsung banyak platform sekarang,” imbuhnya. 

Diakuinya, sosial media baik untuk memberikan wellness namun jangan dijadikan pedoman agar anak tidak melabeli dirinya seperti menganggap diri bipolar dan lain-lain. 

Padahal mungkin itu ketidakstabilan emosi yang wajar jangan sampai itu jadi label apalagi orang tua melabeli anak. 

“Jangan melabeli mendiagnosa diri sendiri kalau tidak nyaman konsultasi secara profesional,” tutupnya. 

Kumpulan Artikel Bali

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved