Ramalan Cuaca
RAMALAN Cuaca, Bibit Siklon Tropis 90S & 99S Pengaruhi Kondisi Cuaca di Selatan Jawa, Bali-Nusra
Hal ini menyebabkan beberapa wilayah di Papua diprediksi akan mengalami peningkatan curah hujan lebat hingga ekstrem.
Penulis: Zaenal Nur Arifin | Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA - Plt Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati, menjelaskan dalam sepekan terakhir tercatat curah hujan sangat lebat hingga cuaca ekstrem terjadi di beberapa wilayah Indonesia.
Diantaranya, 229 mm/hari di Kalimantan Timur, 192 mm/hari di Sulawesi Tengah, 154 mm/hari di Kepri, dan 264 mm/hari di sekitar wilayah Jabodetabek.
“Oleh karena itu, masyarakat yang berada di daerah rawan bencana diimbau untuk lebih waspada terhadap kemungkinan cuaca ekstrem.
Tetaplah mengikuti informasi terbaru dari BMKG, guna memperkuat langkah antisipasi dan meminimalkan resiko bencana hidrometeorologi,” kata Dwikorita pada saat konferensi pers bertajuk Potensi Cuaca Ekstrem di Wilayah Indonesia, Sabtu (1/2/2025) malam.
Baca juga: SAMPAI Awal Februari 2025, Program Makan Bergizi Gratis di Badung Belum Juga Jalan, Kok Bisa?
Baca juga: WASPADA! BPBD Buleleng Imbau Masyarakat Pesisir Pada Gelombang Pasang, Simak Penjelasannya
Berdasarkan analisis terbaru BMKG per 1 Februari 2025, terdeteksi adanya gangguan atmosfer di selatan Indonesia, khususnya di Samudra Hindia selatan Banten dan selatan Nusa Tenggara Barat (NTB), berupa Bibit Siklon Tropis 90S dan 99S.
Kehadiran kedua bibit siklon ini memengaruhi kondisi cuaca di pesisir selatan Jawa, Bali, NTB, dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Meskipun pergerakannya terpantau menjauhi Indonesia, keduanya masih berpotensi berkembang menjadi siklon tropis dalam 2 hingga 3 hari ke depan.
Selain itu, teridentifikasi pula Bibit Siklon Tropis 96P di Teluk Carpentaria, Australia, yang berkontribusi terhadap meningkatnya potensi cuaca ekstrem di Papua dan Nusa Tenggara Timur.
Sementara itu, sejumlah fenomena atmosfer lainnya diperkirakan tetap berperan dominan dalam dinamika cuaca selama sepekan ke depan.
Di antaranya, pertama, dampak La Niña Lemah, Monsun Asia dan Seruakan Dingin (Cold Surge), aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO), Gelombang Atmosfer Kelvin dan Rossby, Labilitas Atmosfer dan Zona Konvergensi.
“Kombinasi fenomena-fenomena tersebut, menurut Dwikorita dapat meningkatkan potensi cuaca ekstrem seperti hujan lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang pada periode 2 hingga 7 Januari 2025.
Beberapa daerah yang terdampak antara lain, Papua, Papua Pegunungan, Papua Selatan, NTB, NTT, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Maluku Utara, Jawa Barat, dan Jambi,” papar Dwikorita.
Di sisi lain, BMKG memandang perlu adanya antisipasi dan perhatian lebih pada kondisi cuaca di Provinsi Papua Pegunungan, Papua dan Papua Selatan akibat dampak siklon tropis 96P di Teluk Carpentaria, Australia dan belokan angin di utara dan Selatan Papua.
Hal ini menyebabkan beberapa wilayah di Papua diprediksi akan mengalami peningkatan curah hujan lebat hingga ekstrem.
| SUHU 30 Derajat di Bali Pada Mei-Juni 2025, BMKG Sebut Ada Anomali Cuaca di Bali |
|
|---|
| Hujan Ringan Diramalkan Saat Malam Takbiran & Lebaran di Bali, Simak Perkiraan Cuacanya! |
|
|---|
| Waspada Cuaca Ekstrem Senin 3 Juli 2023, Bali Masuk Daftar, Ini Daftar 28 Wilayah di Indonesia |
|
|---|
| BMKG Sebut Puncak Musim Kemarau di Bali Tahun Ini Akan Terjadi Periode Juni-Juli |
|
|---|
| CUACA Bali Berawan, Masyarakat Bisa Sedia Payung Saat KUNINGAN Besok |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/sbsdbdndtnj.jpg)