Berita Bali
Diskusi dan Pemutaran Film Jejak Walter Spies Membongkar Romantisisme Pariwisata Bali Era Kolonial
Daya pikat film ini terletak pada kemampuannya menarik benang merah dari masa lalu ke realitas kontemporer.
Penulis: Adrian Amurwonegoro | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Rangkaian safari pemutaran film dokumenter fiksi karya sutradara Michael Schindhelm resmi merampungkan turnya di Ubud, Gianyar, Bali.
Sebelum di Bali, tur digelar Yogyakarta dan Magelang, sebelum akhirnya kembali mengetuk kesadaran publik di Bale Banjar Sokasi Cafe, Ubud, Bali.
Pemutaran ROOTS One Hundred Years of Walter Spies in Bali ini bukan sekadar napak tilas sejarah estetika, melainkan sebuah ruang gugatan kritis terhadap komodifikasi budaya, dampak pariwisata masif.
Serta relasi kuasa kolonial yang membentuk wajah Bali modern sejak kedatangan Spies satu abad silam.
Baca juga: Matangkan Persiapan Pesta Kesenian Bali 2026, EO Dilibatkan Untuk Percepat Proses Pembayaran Seniman
Yudha Bantono, pemegang mandat pemutaran film ini menegaskan bahwa pemilihan rute pemutaran di Pulau Jawa setelah sebelumnya sempat singgah di Perth, Australia dan Jakarta memiliki pertalian sejarah yang sangat kuat.
Sebelum menapakkan kaki di Bali pada tahun 1925, seniman legendaris berkebangsaan Jerman kelahiran Moskow tersebut terlebih dahulu melintasi Batavia, Bandung, hingga Yogyakarta.
“Memang salah satu bagian alasan dari pemutaran film ini di Pulau Jawa adalah untuk mengingat kembali sekaligus merangkai cerita tentang kedatangan Walter Spies ke Indonesia yang kemudian menetap di Bali,” kata Yudha Bantono, Kamis 28 Mei 2026.
Sepanjang bulan Mei 2026, film ini diputar di kantong-kantong estetika Jawa, mulai dari Buku Seni Rupa ISI Yogyakarta dan Yamie Bang Doel di Yogyakarta, hingga ruang komparasi visual di Museum OHD dan Museum H. Widayat di Magelang.
Kehadiran film ini memicu diskusi hangat di kalangan akademisi, seniman, dan budayawan setempat, yang mulai mempertanyakan kembali mitos-mitos kebudayaan yang selama ini mapan.
Melalui jalinan arsip sejarah, rekonstruksi adegan, dan wawancara mendalam bersama para pakar serta penggerak lingkungan, film ini berhasil membedah peran ganda Spies.
Di satu sisi, ia diakui sebagai katalisator kreatif yang mendokumentasikan keindahan visual dan melestarikan tari tradisi.
Di sisi lain, ia adalah figur kontroversial yang terjebak dalam dinamika kuasa budaya era kolonial sebuah era yang tanpa disadari meletakkan batu pertama bagi eksploitasi pariwisata Bali hari ini.
Daya pikat film ini terletak pada kemampuannya menarik benang merah dari masa lalu ke realitas kontemporer.
Di Yogyakarta dan Magelang, audiens tidak hanya terpaku pada estetika era Spies, melainkan melempar pertanyaan tajam mengenai peran seniman pasca Walter Spies dalam mengawal narasi perkembangan Bali.
Menjawab kegelisahan tersebut, seniman asal Bali, Made Bayak, yang juga terlibat dalam proyek film dan pameran film ini di Basel, Swiss serta ARMA Museum Ubud, turut hadir langsung dalam diskusi keliling di Jawa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Diskusi-dan-Pemutaran-Film-Jejak-Walter-Spies-Membongkar-Romantisisme-Pariwisata-Bali-Era-Kolonial.jpg)