Trans Metro Dewata Berhenti Beroperasi
Gubernur Bali Harap Bus TMD Bisa Beroperasi pada Akhir April 2025, FDTB Nantikan
Pengguna transportasi publik di Bali, terutama Trans Metro Dewata (TMD) melakukan audiensi dengan Gubernur Bali, Wayan Koster.
Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Gubernur Bali Harap Bus TMD Bisa Beroperasi pada Akhir April 2025, FDTB Nantikan
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Pengguna transportasi publik di Bali, terutama Trans Metro Dewata (TMD) melakukan audiensi dengan Gubernur Bali, Wayan Koster.
Saat audiensi, Koster mengeluarkan pernyataan yang cukup menyejukkan terkait kelanjutan operasional bus TMD.
“Sekarang persiapan tender operasinya. Begitu tanda tangan kesepakatan, mudah-mudahan akhir April 2025 sudah mulai beroperasi,” kata Wayan Koster.
Baca juga: Minta Organda Bali Ikut Mengawal, Komunitas Bus TMD Berharap Tak Hanya 3 Koridor Diambil Pemprov
Forum Diskusi Transportasi Bali (FDTB), adalah sebuah forum diskusi lintas komunitas tentang transportasi publik di Bali, mengapresiasi pernyataan Gubernur Koster. FDTB melihat urgensi kebutuhan masyarakat Bali akan transportasi umum yang murah, nyaman, aman dan berkeadilan sudah sangat mendesak.
Dyah Rooslina, selaku penggagas Petisi Lanjutkan Operasional Bus Trans Metro Dewata Sebagai Transportasi Publik di Bali yang juga anggota FDTB mengatakan bahwa yang menandatangani petisi ini terus bertambah setiap harinya.
Baca juga: UPDATE Bus TMD, Komisi 3 Bakal Lobi Kemenhub, Pengguna hingga Pramudi Bus Temui DPRD Bali
“Sekarang sudah menembus angka lebih dari 25.000. Ini pertanda bahwa masyarakat sangat membutuhkan transportasi publik, khususnya Trans Metro Dewata,” kata, Dyah.
Berhentinya operasionalisasi TMD sejak 1 Januari 2025, memang memberikan dampak yang sangat nyata.
Seperti Jero Puri, seorang penyandang disabilitas netra yang juga anggota FDTB menuturkan lonjakan pengeluaran untuk transportasi sangat tinggi.
“Dulu saat ada TMD, pengeluaran saya untuk transportasi sekitar Rp. 300 ribu per bulan. Sekarang, saya bisa habis 2 juta rupiah,” keluhnya. Saya harus menekan biaya makan dan pengeluaran kebutuhan lainnya,” ungkap Jero.
Baca juga: Bus TMD Bali Juga Digunakan Turis, Wamenpar Sebut Jadi Aspek Kenyamanan Mobilitas Wisatawan
Sebagai seorang disabilitas netra yang berprofesi sebagai pemijat, Ibu Jero Puri seringkali dipanggil memijat di beberapa daerah, mulai dari Gianyar, Badung hingga Tabanan.
Saat beroperasi, TMD memberikan tarif khusus untuk pelajar, penyandang disabilitas dan lansia sebesar Rp2 ribu. Sebuah nominal yang sangat bersahabat bagi rakyat kecil.
Selain itu dalam bus TMD juga ada penanda suara yang memberikan penjelasan kepada penumpang saat sampai di halte satu dan halte yang lainnya.
Infrasruktur ini sangat membantu penyandang disabilitas netra seperti Jero Puri.
Sebagai layanan transportasi publik, infrastruktur dalam bus TMD dirasakan cukup nyaman oleh para penumpang.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.