Berita Denpasar
Harga Emas hingga Tarif Listrik Sumbang Inflasi Denpasar Bali Pada April 2025
pembayaran listrik pada April kembali normal dan nilai yang dibayarkan terlihat lebih tinggi dari bulan sebelumnya.
Penulis: Putu Supartika | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Pada bulan April 2025, Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Denpasar mencatat inflasi bulanan atau month to month (mtm) mencapai 0,69 persen.
Terdapat 5 komoditi yang dominan mempengaruhi inflasi ini.
Kelimanya yakni tarif listrik, emas perhiasan, bawang merah, tongkol yang diawetkan serta cuci kendaraan.
Kebag Perekonomian Setda Kota Denpasar, I Wayan Putra Sarjana mengatakan, untuk tarif listrik tidak ada kenaikan.
Baca juga: Tantangan Inflasi Medis, Sosok Ini Soroti Pentingnya Perluas Literasi Perlindungan Kesehatan
Namun hal itu tetap berpengaruh terhadap inflasi.
Hal ini dikarenakan diskon tarif yang diberikan bulan sebelumnya sudah berakhir pada Maret dan untuk pasca bayar dibayarkan pada bulan April.
Sehingga pembayaran listrik pada April kembali normal dan nilai yang dibayarkan terlihat lebih tinggi dari bulan sebelumnya.
Jika dilihat inflasi tahunan, tarif listrik tidak masuk katagori penyumbang inflasi.
"Ya karena sudah tidak diskon lagi, tarif listrik kembali normal," katanya.
Ia mengatakan diskon tarif listrik sebesar 50 persen diberikan PLN selama dua bulan yakni Januari dan Februari.
Sementara itu, untuk harga emas dikatakannya memang mengalami pergerakan dalam beberapa bulan terakhir.
Terutama April hampir menyentuh Rp 2 juta per gram naik Rp 200 ribu dari bulan sebelumnya.
Secara tahunan atau year on year (yoy) perhiasan emas juga masuk dalam lima komoditas yang paling dominan memberi andil terhadap inflasi.
Inflasi tahunan di Denpasar tercatat 2,69 persen.
Adapun lima komoditas yang dominan memberi andil terhadap inflasi yakni perhiasan emas, tarif parkir cabai rawit, kopi bubuk dan daging babi. (*)
Kumpulan Artikel Denpasar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.