Kapal Tenggelam di Selat Bali

Bahrul Ulum Ceritakan Detik-detik Terpisah Dengan Adik Iparnya, Korban Selamat KMP Tunu Tenggelam

Bahrul Ulum Ceritakan Detik-detik Terpisah Dengan Adik Iparnya, Korban Selamat KMP Tunu Tenggelam

Editor: Putu Kartika Viktriani
Istimewa dan TribunJatim.com/Sinca Ari Pangistu
KOLASE FOTO : Bahrul Ulum (26), pemuda asal Desa Suren, Kecamatan Ledokombo, Jember yang selamat dari tragedi tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya di Selat Bali, Rabu malam 2 Juli 2025 dan foto daftar penumpang halaman 2. Bahrul Ulum Ceritakan Detik-detik Terpisah Dengan Adik Iparnya, Korban Selamat KMP Tunu Tenggelam 

TRIBUN-BALI.COM, BANYUWANGI – Bahrul Ulum (26), pemuda asal Desa Suren, Kecamatan Ledokombo, Jember, Bali masih setia bertahan di Posko Terpadu Kecelakaan KMP Tunu Pratama Jaya di Pelabuhan Ketapang, Minggu 6 Juli 2025.

Meski sudah selamat dari tragedi tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya di Selat Bali, Rabu malam 2 Juli 2025, Bahrul memilih untuk tetap tinggal.

"Saya masih menunggu adik ipar saya belum ketemu," katanya pada Tribun Jatim Network.

Bahrul tak sendirian berangkat ke Bali.

Ia bersama Budi Hartono (30), adik iparnya, dan Suyitno (35) sepupunya, menaiki Pikap L300 untuk mengantar ikan ke Kintamani, Bali.

 

Detik-detik Terpisah di Tengah Kepanikan

Sebelum kapal terbalik, Bahrul masih sempat berkumpul dengan adik iparnya di lantai atas, terpisah dari sepupunya.

Baca juga: VIDEO Wapres Gibran Rakabuming Raka Blusukan Ke Tabanan Bali, Pantau Harga Kebutuhan Pokok

Namun semua berubah cepat saat kapal mulai miring, mesin mati, dan ombak besar mengguncang.

"Karena tidak sempat lompat," terangnya.

Dalam 30 menit pertama terombang-ambing di lautan, Bahrul terus mencari adik iparnya, namun tak ditemukan.

Setelah dua jam hanyut di laut, akhirnya ia bertemu sepupunya di sebuah sekoci yang menampung penumpang selamat lainnya.

"Saya baru bertemu sepupu saya yang selamat juga, pas di Sekoci," katanya haru. 

Dua Jam Bertahan dengan Luka dan Doa

Selama dua jam di lautan, Bahrul tak sendirian.

Empat orang penumpang laki-laki lain yang tak dikenalnya bergandengan padanya, berharap tetap mengapung.

"Saya sudah kasian, orang-orang itu tak pakai pelampung. Takutnya tak bisa renang," jelasnya.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved