Pendidikan
DEMI Selamatkan Laptop dari Lemot, Laptop Chromeboox di Gianyar Terpaksa Dikanibal
Dari penelusuran Tribun Bali pada Jumat (18/7) di SD Negeri 2 Melinggih, Kecamatan Payangan Kabupaten Gianyar terdapat 15 unit laptop Chromeboox.
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
TRIBUN-BALI.COM – Berdasarkan data Kejaksaan Agung (Kejagung) ada sebanyak 41.703 unit laptop Chromeboox yang disalurkan ke sekolah se-Indonesia untuk tingkat PAUD hingga SMA. Di Bali kebagian jatah sebanyak 453 unit laptop yang tersebar di sejumlah kabupaten/kota.
Sedangkan di Kabupaten Gianyar, terdapat 6 sekolah yang menerima laptop bantuan pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) pada tahun 2020 lalu. Dari 6 unit laptop tersebut tersebar di 3 SD dan 3 SMP.
Dari penelusuran Tribun Bali pada Jumat (18/7) di SD Negeri 2 Melinggih, Kecamatan Payangan Kabupaten Gianyar terdapat 15 unit laptop Chromeboox.
Baca juga: Calon PMI asal Bali Tujuan Jepang Tetap Dapat Job Letter
Baca juga: SATGAS Pangan Polda Bali Telusuri Peredaran Beras Oplosan, Aprindo Perketat Distribusi & Pemasok
Dari jumlah tersebut 4 unit laptop Chromeboox yang tidak bisa digunakan lagi karena tidak bisa diperbaiki. Namun terdapat laptop yang lemot. Untuk menghindari mati total, laptop tersebut diperbaiki dengan cara kanibalisasi spare part laptop yang mati.
Meskipun kondisi laptop yang diperbaiki dengan cara kanibal, namun tetap saja tidak bisa berfungsi normal seperti pertama kali diterima dari Kemendikbudristek.
Kepala SDN 2 Melinggih, Ida Bagus Sutarjana mengungkapkan hal tersebut. Kata dia, ada 4 unit laptop Chromeboox yang saat ini tidak bisa dipakai.
“Sejak setahun lalu, 4 unit laptop Chromeboox kami dipensiunkan, hanya disimpan di gudang. Karena oleh teknisi, katanya tidak bisa diperbaiki. Ada pula laptop yang lemot, tetapi oleh teknisi diperbaiki dengan cara mengambil jeroan (kanibal) laptop Chromeboox yang mati. Tapi tetap lemot juga, tapi tidak mati,” ujarnya.
Terlepas dari kekurangan tersebut, dirinya tetap berterima kasih atas bantuan laptop tersebut. Sebab sebelum adanya pemberian laptop ini, biasanya meminjam laboratorium komputer di tempat lain, agar siswanya bisa mengikuti ujian Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK).
“Terlepas dari kekurangannya, saya berterima kasih pada alat itu. Pada saat saya diberikan, laptop ini sangat luar biasa membantu. Karena awalnya saat ujian ANBK, kami selalu meminjam laptop pada orangtua yang punya laptop, dan kami pinjam tempat yang punya lab komputer. Pada intinya, produk (Chromeboox) itu bagus bagi yang tak punya,” ujarnya.
Meski demikian, tidak semua sekolah yang menerima bantuan laptop Chromeboox tersebut, kondisi rusak. Salah satunya di SMP Negeri 3 Payangan, yang berada di wilayah Desa Buahan Kaja.
Pihak sekolah mengungkapkan, dari 19 unit laptop Chromeboox yang diterima, sampai saat ini semuanya masih berfungsi normal.
“Laptop Chromeboox yang kami terima ada 19 unit. Saat ini masih beroperasi normal,” ujar Kepala SMPN Payangan, Gusti Ngurah Deli.
Ngurah Deli berharap Chromeboox yang ada di sekolahnya tidak mengalami masalah seperti di sekolah lainnya. Sebab keberadaan laptop Chromeboox ini sangat diandalkan untuk siswa belajar tentang komputer.
Seperti diketahui, sekolah ini berada di pelosok wilayah Kecamatan Payangan, dengan anggaran yang dimiliki cukup terbatas, sehingga jika laptop mengalami kerusakan dan tak bisa diperbaiki, maka pihak sekolah tidak memiliki laptop untuk kepentingan belajar-mengajar.
“Laptop Chromeboox ini kita pakai belajar komputer. Keberadaannya sangat membantu, karena wilayah kita di sini agak jauh dari kota,” tegasnya.
Laptop berbasis Chromebook saat ini menjadi sorotan. Hal ini setelah Kejagung RI menetapkan dan menahan 4 tersangka terkait pengadaan laptop tersebut.
Kasus dugaan korupsi pengadaan laptop Chromebook di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) tahun 2019-2022 yang menyeret eks Mendikbudristek Nadiem Makarim masih bergulir. Kasus dugaan korupsi ini disebut merugikan negara sekitar Rp 1,98 triliun.
Pengadaan laptop berbasis Chromebook menelan anggaran hingga Rp 9,3 triliun, untuk sekitar 1,2 juta unit. Saat ini sudah ada 4 orang yang ditetapkan sebagai tersangka, yakni Jurist Tan, mantan staf khusus Nadiem, Ibrahim Arief, mantan konsultan Kemendikbudristek Sri Wahyuningsih, mantan Direktur Sekolah Dasar Kemendikbudristek dan Mulyatsyah, Direktur Sekolah Menengah Pertama Kemendikbudristek.
Bahkan kasus pengadaan Laptop Chromebook ini juga menyeret nama Mendikbudristek periode 2019-2024, Nadiem Makarim yang sudah 2 kali diperiksa oleh Kejagung.(weg)
| Sepanjang Januari- April 2026 BPJS Ketenagakerjaan Gianyar Bayarkan Klaim Beasiswa Rp651 Juta Lebih! |
|
|---|
| STIKOM Usulkan Satu Rumah Satu Sarjana IT, Jadi Universitas Tahun 2026, Ini Harapan Dadang |
|
|---|
| DEWAN Harap Swasta Juga Diperhatikan, Daya Tampung SMP Negeri di Denpasar Kurang dari 50 Persen |
|
|---|
| SISWA Bisa Pilih 3 Sekolah, Lewat Jalur Domisili & Afirmasi SPMB SMP 2026, Juni Hingga Awal Juli |
|
|---|
| SEBUT Pembatasan Guru Honorer Sejalan UU ASN, Pemerintah Tengah Bahas Pengangkatan Guru Pada 2027 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Kondisi-Laptop-Chromeboox-di-sekolah-di-Kabupaten-Gianyar-896.jpg)