Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Bali

Apakah Permen Banten Tak Dapat Dikonsumsi Layak Dipersembahkan? Ini Jawaban PHDI Bali

Apakah Permen Banten Tak Dapat Dikonsumsi Layak Dipersembahkan? Ini Jawaban PHDI Bali

PIXABAY
ilustrasi permen 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR — Permen banten acapkali digunakan oleh masyarakat Bali untuk diaturkan di banten atau sesajen. Permen banten ini biasanya tak dapat dikonsumsi karena rasanya yang aneh. 

Lantas apakah wajib mempersembahkan permen di banten? Berikut penjelasan Ketua PHDI Bali, I Nyoman Kenak, S.H. Menurutnya, pemberian permen untuk banten tidak diharuskan. 

“Itu kan persembahan sebagai bentuk rasa syukur kita kepada Tuhan apapun itu, bahan yang kita persembahkan harus dari bahan yang sukla suci bersih,” jelasnya pada, Jumat 25 Juli 2025. 

Baca juga: Pesan Rektor UKSW saat Wisuda 602 Mahasiswa, Jangan Kecewakan Orang Tua dan Tetap Melaju

Lebih lanjutnya ia mengatakan apapun itu yang dipersembahkan pada Tuhan maka harus yang layak dikonsumsi. Terlebih jika bentuknya berupa makanan. 

“Beredar di pasaran, kita semuanya harus peduli jangan sampai ada korban tapi saya juga belum dengar ada korbannya. Kalau pun ada, kan ya apapun itu yang jenis makanan, itu kan harus ada izin dari BPPOM. Enggak boleh sembarangan dikonsumsi,” tandasnya. 

Baca juga: Korban Kapal Tenggelam Ikuti Ritual di Selat Bali, Wiardani Harap Jenazah Suami Ditemukan

Menurutnya permen banten yang diedarkan tak layak konsumsi sudah menyalahi aturan. Sebab di Bali usai menghaturkan persembahan biasanya persembahan tersebut akan dinikmati. 

 


“Kita persembahan dulu, kan. Persembahan sudah itu baru kita lungsur, kan. Maksudnya kan gitu. Persembahan di Bali merupakan sukla bukan paridan gitu lah. Barang yang bukan paridan itu dipesembahkan dulu dan itu baru kita lungsur. Setiap yang kita pesembahkan itu yang kita ya kita lungsur, kita makan,” bebernya. 

 


Maka dari itu, ia meminta agar BPOM turut serta mengawasi hal tersebut. Ia pun meminta agar permen banten tidak diedarkan lagi sebab dikhawatirkan akan dikonsumsi usai disembahkan. Ketika permen ditaruh diatas canang biasanya dinamai mesoda di Bali. Yang menjadi bentuk tanda syukur. Selain permen biasanya sodan juga diisi kue-kue, dan roti. 

 


“Tidak ada kata harus, tapi apakah kita melarang mempersembahkan permen? Karena rasa syukur umat, dan itu namanya persembahan merasa syukurnya,” jelasnya. 

 


Selain itu juga pada caru yang umurnya sudah sekian hari yang menimbulkan bau, menurut Kenak hal tersebut tidak masalah sebab bahan yang digunakan masih sukla. 

 

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved