Sampah di Bali
TEBA Modern Bukan Solusi Sampah Kota Denpasar? Ini Kata Forum Swakelola Sampah Saat Temui Gubernur
Sampah organik menimbulkan bau terlebih sampah tersebut merupakan sisa-sisa makanan dari dapur. “Kita juga berikan masukan kepada Gubernur Bali
Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR — Forum Swakelola Sampah Bali, telah melakukan pertemuan dengan Gubernur Bali, Wayan Koster, membahas mengenai permasalahan sampah pada, Kamis 7 Agustus 2025.
Forum Swakelola Sampah ini, membawahi hampir 500 swaklola-swaklola sampah yang menjual jasa pengangkutan sampah dari, Kabupaten Badung dan Kota Denpasar.
I Wayan Suarta, Ketua Forum Swakelola Sampah Bali, menjelaskan dari pertemuan tersebut, Gubernur Bali, Wayan Koster, menekankan agar lebih banyak masyarakat memilah sampah dari sumbernya.
Selain itu juga disampaikan program-program dari pemerintah, dalam penanganan sampah terdapat kurang lebihnya hingga TPS3R dan TPST ada yang mangkrak dan tidak berjalan.
Baca juga: PILAH Sampah Mandiri, Anggota DPRD Bali Nyoman Suwirta Kelola Sampah Organiknya Sejak 2016
Baca juga: TRAGEDI Bayi 3 Bulan Meninggal di RSUD Sanjiwani, Sekda Gianyar Ucap Belasungkawa
Termasuk pembahasan mengenai pembatasan sampah, per tanggal 1 Agustus di TPA Suwung untuk pembuangan sampah organik dan sampah yang diterima hanya sampah non organik dan residu.
Sedangkan sampah organik dinilai dapat diselesaikan sendiri di masing-masing rumah tangga. Permasalahannya adalah, sampah residu dan sampah organik di mana dari 100 persen sampah di Bali terdiri dari hampir 70 persen merupakan sampah organik.
Sampah organik menimbulkan bau terlebih sampah tersebut merupakan sisa-sisa makanan dari dapur. “Kita juga berikan masukan kepada Gubernur Bali, dan beliau pun juga memahami apalagi di kota Denpasar, Badung sebagian besar disini juga lahan juga sempit sekali, tidak ada lahan kosong di kota besar seperti Denpasar. Jadi untuk menerapkan program-program itu apalagi teba modern itu sudah tidak bisa,” ucap, Suarta.
Terlebih jika akan menerapkan teba vertikal, di depan rumah juga akan sulit dilakukan karena pekarangan lahan kosong sudah tidak ada, dan lahan untuk membakar sampah juga tidak tersedia.
Saat musim hujan air akan masuk ke teba vertikal. Sedangkan teba vertikal terbuat dari tanah liat, sehingga air akan diam di dalam teba vertikal dengan jangka waktu yang lama, tidak bisa langsung terserap.
Ini dikhawatirkan malah akan menjadi sarang nyamuk. Sama dengan, TPS3R yang hampir sebagian besar, tidak bisa diterapkan karena tersedia lahan. Dari 1.500 desa adat di Bali hanya beberapa Desa saja yang dapat membuat TPS3R, sisanya tidak ada.
“Dan itu pun sudah terbentuk, terwujud, sudah jalan bahkan beberapa TPS3R itu akhirnya dalam pertengahan jalan juga banyak yang mati suri,” terangnya.
TPS3R dinilai memang dapat menyelesaikan masalah sampah, namun hanya sedikit dan tidak begitu banyak bisa menyelesaikan masalah.
Terlebih luas TPS3R tidak begitu luas dan biasanya hanya seluas lahan 3 are sampai 4 are. Sedangkan di dalam satu desa, kelurahan jumlah sampah hingga ton.
TPS3R hanya dapat menampung dalam satu hari itu dua truk sampah. Lalu dilakukan proses, pilah-memilah dimana sampah organik yang akan dibuat pupuk kompos, dan sampah non organik serta residunya.
“Nah ini sampah organik yang mau dibikin pupuk kompos ini kan makan waktu. Kalau kita misalkan mau pakai mesin pencacah, ataukah M4, ataukah mungkin pakai cacing sebagai pengurai supaya lebih cepat terurai, nah ini kan makan waktu. Fermentasi ini kurang lebih 2 sampai 3 bulan.
Nah selama itu kan dia memakan tempat di situ walaupun nanti kalau misalkan kita panen, terus habis itu hasil panen itu kita masukkan ke kemasan, entah itu kampil atau plastik harapan kita bisa dijual, akhirnya tidak ada yang mau beli. Jadi numpuk juga di gudang, akhirnya sampah-sampah itu tidak bisa masuk lagi,” pungkasnya. (*)
| DENDA Rp100 Ribu Dinilai Tak Bikin Jera, Satpol PP Badung Dorong Pelanggar Sidang Tipiring di Lokasi |
|
|---|
| KOSTER Mohon Maaf, Temui Para Mahasiswa & BEM Unud, Demo Aksi Tuntut Penanganan Bali Darurat Sampah |
|
|---|
| Kolaborasi Desa Tibubeneng dan Ginting Institute: Canangkan Gerakan Siswa Peduli Lingkungan Hidup |
|
|---|
| Temui Mahasiswa dan BEM Unud, Koster Jabarkan Update Penanganan Sampah di Bali |
|
|---|
| Mesin Olah Sampah dari Australia Tiba di Klungkung, Digadang-gadang Bisa Olah Sampah 8 Ton Per Jam |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/tfrkltgltyl7u8.jpg)