Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Sponsored Content

Diskusi Sastra Paguneman Pangawi Bali, Bahas Nasib Bahasa Bali Dari Sentuhan Teknologi 

Melainkan mampu memberikan dampak nyata terhadap peningkatan jumlah penutur Bahasa Bali, khususnya di kalangan generasi muda.

Tribun Bali/ISTIMEWA
Diskusi sastra mengangkat tema Paguneman Pangawi Bali, yang digelar di Lantai 1 Gedung Ksirarnawa, Taman Budata Bali, Rabu 11 Februari 2026. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR — Eksistensi bahasa dan sastra Bali modern, kini berada di persimpangan antara tradisi dan perkembangan teknologi.

Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali yang telah berlangsung, hampir satu dasawarsa diharapkan tidak sekadar menjadi agenda seremonial tahunan.

Melainkan mampu memberikan dampak nyata terhadap peningkatan jumlah penutur Bahasa Bali, khususnya di kalangan generasi muda.

Hal tersebut mengemuka dalam diskusi sastra, mengangkat tema Paguneman Pangawi Bali yang digelar di Lantai 1 Gedung Ksirarnawa, Taman Budata Bali, Rabu 11 Februari 2026.

Akademisi Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, I Made Sujaya selaku pembicara menegaskan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan Bulan Bahasa Bali guna mengukur efektivitasnya dalam membangkitkan minat berbahasa Bali di tengah masyarakat, khususmya di kalangan generasi muda. 

Baca juga: Penutup Saluran Irigasi Subak di Munggu Akhirnya Dibongkar Paksa, Satpol PP Turunkan Alat Berat

Baca juga: Penutup Saluran Irigasi Subak di Munggu Akhirnya Dibongkar Paksa, Satpol PP Turunkan Alat Berat

Menurutnya, bahasa Bali saat ini menghadapi tantangan serius berupa degradasi jumlah penutur, terutama di kalangan generasi muda. Bulan Bahasa Bali merupakan salah satu upaya positif mencegah hal itu. Namun, agar efektivitasnya nyata, perlu dilakukan evaluasi yang komperehensif. 

 

Sujaya menekankan perlunya pendekatan adaptif yang selaras dengan perkembangan teknologi. Salah satunya melalui alih wahana karya sastra tradisional ke bentuk yang lebih dekat dengan generasi muda, seperti film pendek, konten digital, maupun cerita pendek berbasis platform daring.

 

“Anak muda harus dilibatkan dengan pendekatan yang sesuai zamannya. Sastra Bali bisa dikemas dalam format digital agar lebih mudah diakses dan diminati,” ujarnya.

 

Ia juga menyoroti masih belum berkembangnya kritik sastra Bali modern.  Padahal, tradisi kritik yang kuat dinilai penting untuk menjaga kualitas karya agar tetap relevan, bermakna, dan menempatkannya dalam konteks sejarah dan perkembangan masyarakat Bali. Dengan begitu,  sastra Bali modern makin mampu menjadi tuntunan hidup bagi masyarakat Bali.

 

Senada dengan itu, penulis asal Karangasem, I Komang Berata yang juga menjadi pembicara dalam diskusi itu menyoroti persoalan teknis yang kerap luput dari perhatian, yakni konsistensi penggunaan ejaan bahasa Bali dalam huruf Latin. Menurutnya, ketidakkonsistenan tersebut dapat menghambat upaya standarisasi dan pembelajaran bahasa Bali secara lebih luas.

 

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved