Demonstrasi di Bali
Terkait Travel Warning, PHRI Bali Minta Semua Pihak Jaga Kondusivitas Pulau Bali
Menyikapi dinamika sosial yang belakangan berkembang termasuk aksi demo yang terjadi dapat memengaruhi iklim pariwisata Bali.
Penulis: I Komang Agus Aryanta | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
TRIBUN-BALI.COM, BADUNG – Menyikapi dinamika sosial yang belakangan berkembang termasuk aksi demo yang terjadi dapat memengaruhi iklim pariwisata Bali.
Apalagi sejumlah negara sudah mengeluarkan Travel Warning Indonesia Khususnya Bali.
Menyikapi hal itu, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali meminta agar seluruh elemen masyarakat tetap menjaga Kondusivitas di Pulau Bali.
Baca juga: KOSTER Serukan Bali Harus Aman Pasca Demo Anarkis, Gubernur Pimpin Gelar Agung Pecalang di Renon
Hal itu pun disampaikan Wakil Ketua PHRI Bali I Gusti Ngurah Rai Surya Wijaya saat dikonfirmasi Senin 1 September 2025.
"Kami mengimbau kepada seluruh elemen masyarakat, pelaku pariwisata, hingga pemerintah daerah untuk bersama-sama menjaga stabilitas keamanan dan kenyamanan di Pulau Dewata. Karena ini untuk keberlangsungan pariwisata di Bali," ucapnya.
Baca juga: Ada Isu Demo, Dewan Gianyar Bali Tak Berani Parkir Di Areal Gedung DPRD
Surya Wijaya yang juga merupakan Ketua PHRI Badung itu menegaskan bahwa pariwisata merupakan tulang punggung perekonomian Bali yang tidak hanya menghidupi jutaan masyarakat lokal, tetapi juga berkontribusi besar terhadap devisa negara.
Oleh sebab itu, ia mengingatkan semua pihak agar mengedepankan sikap menahan diri dan tidak mudah terprovokasi.
"Kami memahami adanya kekecewaan dari masyarakat terhadap sejumlah kebijakan. Namun mari kita semua menahan diri, tidak terprovokasi, dan tetap menjaga kondusivitas Bali. Stabilitas ini sangat penting demi keberlangsungan pariwisata kita," ujarnya.
Baca juga: Sempat Beredar Info Hoaks Demo di Asrama Polisi Sanglah, Karo Ops Polda Bali: Laksanakan Pengamanan
Surya Wijaya menyebut sektor pariwisata ibarat 'ayam bertelur emas' bagi Bali.
Bila tidak dijaga bersama-sama, dampaknya bisa sangat besar, terutama pada pendapatan daerah, lapangan kerja, dan kesejahteraan masyarakat yang sebagian besar bergantung pada pariwisata.
Menurutnya, situasi yang tidak kondusif bisa menimbulkan efek domino.
Selain merusak citra Bali di mata internasional, kondisi itu juga berpotensi memicu negara lain mengeluarkan travel warning bagi warganya.
"Travel warning itu sebenarnya langkah wajar dari sebuah negara, sifatnya imbauan agar warga mereka lebih berhati-hati. Meski bukan larangan bepergian, namun hal itu bisa memengaruhi minat wisatawan untuk datang ke Bali," bebernya.
Kendati demikian, saat ini tren wisatawan ke Bali Masih Positif, meski ada dinamika sosial yang belakangan terjadi. Sesuai data kunjungan wisatawan ke Bali masih menunjukkan tren menggembirakan.
"Sepanjang Agustus 2025, kunjungan wisatawan tercatat mencapai 4,6 juta orang," ucapnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Wakil-Ketua-PHRI-Bali-I-Gusti-Ngurah-Rai-Surya-Wijaya-4566.jpg)