LSD di Bali
MESKI Belum Ada Temuan LSD di Badung, Namun Jual-Beli Sapi di Pasar Hewan Beringkit Diawasi Ketat!
Instansi ini melakukan pemeriksaan sapi-sapi yang keluar masuk pasar untuk memastikan hewan mamalia ini bebas dari virus Lumpy Skin Disease (LSD).
Penulis: I Komang Agus Aryanta | Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Pasca virus Lumpy Skin Disease (LSD) menghantui peternak sapi di Bali, pemkab Badung yang selama ini menjadi tempat lokasi transaksi jual beli sapi di pasar hewan beringkit mulai diperketat.
Bahkan aktivitas jual beli sapi di Pasar Hewan Beringkit mendapat pengawasan ketat dari tim gabungan Balai Besar Veteriner (BBV) Denpasar dan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung.
Instansi ini melakukan pemeriksaan sapi-sapi yang keluar masuk pasar untuk memastikan hewan mamalia ini bebas dari virus Lumpy Skin Disease (LSD). Seperti diketahui, LSD sendiri pertama di Bali ditemukan menjangkiti sapi di Jembrana, kemudian yang terbaru tetdeteksi di Buleleng.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Badung I Wayan Wijaya saat dikonfirmasi Rabu 21 Januari 2026 mengakui sampai saat ini untuk di Badung belum ditemukan sapi yang terjangkit LSD.
Kendati demikian sebagai tempat transaksi hewan di Pasar Hewan Beringkit yang berlokasi di Kecamatan Mengwi Badunh pihaknya mulai melakukan langkah waspada. Bahkan pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) kecamatan di Badung terus melakukan pemantauan situasi di lapangan, termasuk pengawasan ketat di Pasar Hewan Beringkit.
Baca juga: CURIGA Tak Jawab Saat Dipanggil, Baru Pindah Kontrakan, Wanita di Sesetan Ditemukan Meninggal Dunia!
Baca juga: MUTASI Kompol Diputra Jabat Kasatreskrim, Sejumlah Posisi Strategis Polresta Denpasar Wajah Baru!
"Berdasarkan laporan terbaru, hingga saat ini belum ada temuan ataupun laporan terkait Lumpy Skin Disease (LSD) di Badung. Namun kita antisipasi di pasar hewan," ujarnya.
Pihaknya juga mengaku telah memberikan arahan kepada pengelola Pasar Hewan Beringkit untuk meningkatkan pengawasan dan penerapan biosecurity yang lebih ketat. Langkah ini diambil untuk memastikan keamanan dan kesehatan hewan ternak di pasar.
"Pengawasan ini dilakukan untuk memastikan kesehatan hewan ternak, khususnya sapi, yang diperjualbelikan di pasar," kata Wijana.
Disamping itu pihak Balai Besar Veteriner (BBV) Denpasar juga mengaku melakukan pemantauan, pemeriksaan, dan pengambilan sampel terhadap sapi yang masuk ke Pasar Beringkit pada tanggal 18 Januari 2026. Langkah ini dilakukan untuk memastikan seluruh sapi dalam kondisi sehat dan bebas dari LSD.
Sebanyak 491 ekor sapi yang masuk ke Pasar Beringkit telah diperiksa, dan hasil pemeriksaan tidak ditemukan gejala klinis LSD. Sampel yang diambil secara sampling juga diuji PCR LSD di lab bioteknologi BBV Denpasar, dan hasilnya menunjukkan negatif.
"Manajemen Pasar Beringkit juga melakukan spraying dan KIE melalui pengeras suara pasar guna meningkatkan kewaspadaan seluruh pelaku pasar terhadap LSD dan PHMS lainnya," jelasnya.
Langkah ini merupakan bagian dari upaya pencegahan dan pengendalian LSD di wilayah Badung. Diakui kedepan dan seterusnya Pasar Hewan Beringkit sendiri akan terus menerapkan protokol kesehatan ketat, termasuk pemeriksaan kesehatan hewan dan penyemprotan disinfektan.
"Ini kita lakukan untuk mencegah penyebaran penyakit. Semoga tidak sampai Badung virus tersebut," imbuhnya. (*)
| Lalulintas Ternak Sapi dan Kerbau di Jembrana Diperketat, Pemulihan Pasca Diserang LSD |
|
|---|
| HANYA Kecamatan Pekutatan Tak Ada Suspek LSD, Baru 456 Ekor Ternak Warga Terima Vaksinasi |
|
|---|
| TAMBAHAN Dosis Khusus untuk Zona Tertular LSD, Masih Jauh Kurang Dari Total Estimasi Populasi |
|
|---|
| Kasus LSD, Jembrana Bali Dapat Tambahan 3.940 Dosis Vaksin, Kurang Dari Total Estimasi Populasi |
|
|---|
| BATAL Lockdown di Buleleng, 3 Sapi LSD Sembuh, Ini Kata Dinas Peternakan! |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Situasi-di-pasar-Hewan-beringkit-pada-Rabu-21-Januari-2026.jpg)