Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Banjir di Bali

Pasca Banjir Parah di Bali, Profesor Putu Anom Minta Moratorium Pembangunan Akomodasi Pariwisata 

Pasca Banjir Parah di Bali, Profesor Putu Anom Minta Moratorium Pembangunan Akomodasi Pariwisata 

Tayang:
ISTIMEWA
Pencarian korban banjir di area hutan Mangrove, Bali. 4 korban belum ditemukan. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR — Banjir yang terjadi di Bali khususnya di Kota Denpasar dan Kabupaten Badung menyita perhatian. 

Bagaimana tidak, Banjir ini merupakan banjir terparah yang terjadi dengan jumlah korban jiwa sebanyak 18 orang.

Pesatnya perkembangan pariwisata di Bali Selatan membuat pembangunan masif dilakukan.

Tidak hanya di hilir yakni Kota Denpasar dan Badung Selatan, kawasan hulu juga kini dipenuhi bangunan dengan dalih pariwisata alam.

Baca juga: Kisruh Tanah yang Dibangun Pabrik oleh WNA di Sidakarya, BPN Bali Ungkap Sejumlah Fakta

Lahan pertanian kian tergerus, hutan kian gundul yang membuat serapan air terus berkurang hingga terjadi bencana.

Hal tersebut diungkapkan oleh Pengamat Pariwisata Prof I Putu Anom.

Berkembangnya pariwisata hanya di Bali Selatan berdampak pada kepadatan penduduk serta kebutuhan lahan tinggi.

Baik lahan untuk pariwisata dan hunian, drainase dan tata ruang pun banyak dilanggar.

Baca juga: Kisruh Tanah yang Dibangun Pabrik oleh WNA di Sidakarya, BPN Bali Ungkap Sejumlah Fakta

“Hal serupa juga terjadi di hulu. Sekitar sungai makin banyak dipenuhi bangunan terutama hotel dan vila hingga glambing yang kian marak.

Pohon banyak ditebang yang membuat hutan menjadi gundul,” katanya pada, Sabtu 20 September 2025. 

Intensitas hujan yang tinggi akan memberi dampak pada pembangunan yang tak terbendung ini dan terjadilah fenomena banjir bandang yang menelan korban hingga kerugian materi.

“Jika kita lihat banjir juga terjadi di Jembrana yang notabene penduduk tidak banyak. Ini karena  di hulu hutan banyak di tebang.

Apalagi di Denpasar dan Badung dampak yang dirasakan pasti luar biasa,” ujarnya.

Menurutnya wacana terkait moratorium alih fungsi lahan ini tentu sangat bagus namun harus didorong realisasinya, sehingga bukan hanya sekedar wacana.

Pembangunan harus dihentikan tertutama akomodasi parwisata kini banyak yang dibangun di bantaran sungai. Terutama di kawasan Ubud dan sekitarnya ke utara. Banyak akomodasi pariwisata yang memanfaatkan tebing. “Dia mengambil view sungai sehingga tebing dipakai. Tapi bukan di atas saja, sampai bawah mendekati sungai,” ungkapnya.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved