Seputar Bali
Purbaya Colek Pemkab Badung Punya Simpanan Hingga Rp2,2 Triliun, BPKAD: Bukan Mengendap
Purbaya Yudhi Sadewa menyolek salah satu Pemkab di Bali yakni Pemerintah kabupaten Badung usai memiliki simpanan di Bank senilai Rp2,2 triliun
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa menyolek salah satu Pemkab di Bali yakni Pemerintah kabupaten Badung usai memiliki simpanan di Bank senilai Rp2,2 triliun
Jumlah simpanan Pemkab Badung ini menjadi salah satu dari 15 Pemda di Indonesia yang memiliki simpanan yang tinggi di bank.
Kontribusi terbesar Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Badung berasal dari sektor Pajak Hotel, Restoran, dan Hiburan (PHR).
PAD Kabupaten Badung tahun 2024 mencapai Rp 6,7 triliun, terbesar di Bali.
Baca juga: SKANDAL Bule Rusia di Bali, Mr Terimakasih Dilaporkan Balik 12 WNA, Tipu Investasi Puluhan Miliar?
Sementara PAD Badung tahun 2025 ditargetkan sekitar Rp 10,1 triliun, berdasarkan APBD perubahan yang disepakati.
Target awal di APBD 2025 adalah sekitar Rp 9,6 triliun lebih, namun kemudian disesuaikan.
Pada 2025, dana daerah yang tersimpan di bank melonjak hingga Rp 234 triliun, menjadi yang tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Dana yang mengendap di bank itu bahkan mencapai Rp 234 triliun.
Baca juga: SELAMAT JALAN! Pasutri dan Dua Anak Tewas Kecelakaan, Disapu Truk yang Dikendarai Pelajar
Data Kementerian Keuangan (Kemenkeu) per Rabu (15/10/2025) menunjukkan, jumlah tersebut merupakan akumulasi simpanan kas daerah hingga akhir September 2025.
Purbaya menilai, peningkatan tersebut terjadi karena rendahnya serapan anggaran daerah, yang menyebabkan dana pemerintah daerah terus menumpuk di bank.
“Realisasi belanja APBD sampai dengan triwulan ketiga tahun ini masih melambat. Rendahnya serapan tersebut berakibat menambah simpanan uang pemda yang menganggur di bank sampai Rp234 triliun,” jelas Purbaya.
“Jadi jelas ini bukan soal uangnya tidak ada, tapi soal kecepatan eksekusi,” tambahnya.
Menurutnya, besaran dana yang belum terserap itu bukan disebabkan oleh kekurangan anggaran, melainkan karena lambatnya realisasi belanja Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
“Pemerintah pusat sudah menyalurkan dana ke daerah dengan cepat. Sekali lagi, (untuk) memastikan uang itu benar-benar bekerja untuk rakyat,” ujarnya.
Baca juga: 15 Pemda Pemilik Simpanan Tertinggi di Bank, Kabupaten Terkaya di Bali Posisi 11
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Menteri-Keuangan-Purbaya-Yudhi-Sadewa-78.jpg)