Hari Raya Galungan
Buntut Polemik Pemasangan Penjor, Komisi VI DPR RI Akan Temui PLN
Terkait polemik terkait imbauan PLN mengenai jarak aman pemasangan penjor dari kabel listrik, anggota DPR RI akan temui PLN
Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR — Terkait polemik terkait imbauan PLN mengenai jarak aman pemasangan penjor dari kabel listrik, Anggota Komisi VI DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, I G.N. Kesuma Kelakan atau Alit Kelakan, akan menemui pihak PLN.
Menurut Alit, niat PLN sebetulnya bertujuan menjaga keselamatan masyarakat, namun cara penyampaiannya memunculkan salah persepsi di tengah masyarakat Bali.
Pernyataan itu disampaikan Alit Kelakan di Denpasar, Jumat, 21 November 2025.
Baca juga: Imbauan Penjor, Asosiasi Kontraktor Listrik Indonesia Minta Pejabat PLN Pahami Budaya Bali
Alit Kelakan menekankan bahwa kabel listrik memiliki dua jenis, yakni kabel terbungkus dan tidak terbungkus.
Pada kabel tidak terbungkus, risiko bahaya meningkat terutama saat musim hujan karena arus dapat berpindah melalui benda yang bersentuhan, termasuk penjor.
"Kalau ini dipegang sama anak-anak kecil bisa menyebabkan setrum. Itu mungkin maksudnya," kata Alit Kelakan.
Ia juga menambahkan bahwa kabel tertutup pun tak sepenuhnya aman apabila terdapat luka pada pembungkusnya.
Baca juga: VIRAL Imbauan Pasang Penjor PLN, Dr Wayan Jondra: Tidak Semua Kabel Listrik Tenget
Hal tersebut menjadi alasan PLN mengkhawatirkan potensi sengatan listrik jika penjor dipasang terlalu dekat.
Oleh karena itu, menurut Alit Kelakan, sosialisasi PLN seharusnya tidak menekankan angka baku jarak minimal 2,5 meter.
Lebih penting adalah menegaskan agar penjor tidak menyentuh kabel terbuka atau kabel yang mengalami kerusakan.
"Jangan di situ. Silakan pasang penjor jangan sampai menyentuh kabel-kabel yang terbuka atau kabel luka. Itu kan berisiko tinggi terhadap keselamatan. Itu sebenarnya, nanti saya akan ketemu dengan PLN membahas lebih lengkap," tegasnya.
Baca juga: PHDI Bali Ajak Pasang Penjor Seperti Sebelumnya, Akhiri Polemik dan Rayakan Galungan dengan Khusyuk
Ke depan, Alit Kelakan menilai penting adanya penataan kabel agar tidak semrawut demi keselamatan masyarakat luas.
"Ini kan sebenarnya bicara keselamatan maksudnya baik, tapi penyampaiannya menjadi tidak diterima dengan baik," ujarnya.
Terkait usulan agar orang Bali dilibatkan dalam pengambilan keputusan di PLN, Alit Kelakan menegaskan bahwa penempatan jabatan harus tetap mengikuti prinsip merit sistem.
"Kita tidak bisa hal itu arahnya nanti ke rasis. Di Bali harus orang Bali dan di Jawa harus orang Jawa."
"Nanti kalau orang Bali di Kalimantan jadi Kepala PLN nanti bisa diusir. Itu arahnya jadi rasis kita. Jadi, tidak apa-apa merit sistem, tapi jika ada orang Bali yang mampu bisa bertugas di Bali. Dulu khan orang Bali, seperti I Gusti Ngurah Adnyana orang Bali jadi Direktur PLN," paparnya.
Sebelumnya, Ketua Umum Paiketan Krama Bali, Dr. Ir. I Wayan Jondra juga menyoroti kegaduhan soal penjor menjelang Hari Raya Galungan dan Kuningan.
Hal tersebut sebagai bukti Pejabat PLN gagal memahami karakter masyarakat Bali, yang selama ini menjadi konsumen PLN terbaik di Indonesia, karena nihil tunggakan.
"Pejabat PLN jangan omong saja, mesti beri contoh, danai desa adat untuk membuat contoh pemasangan penjor yang aman tanpa kehilangan makna, dengan menggandeng tokoh agama dan tokoh adat," tegas Jondra yang juga Dosen Jurusan Teknik Elektro, Progam Studi Teknik Listrik Politeknik Negeri Bali (PNB) di Denpasar, Minggu, 16 November 2025.
Menurutnya, kegaduhan itu tidak lepas, karena PLN Distribusi Bali belum tuntas mengamankan jaringannya yang terbuka, misalnya dengan memasang "Tekep Isolator" dan mennganti kabel AAAC dengan kabel AAAC-S (Kabel tegangan menengah berisolasi).
Sosialisasi PLN harus jelas, tidak semua kabel PLN tidak boleh disentuh penjor. Kabel berisolasi jenis medium voltage twested insulated cable (MVTIC) aman ditempel penjor.
Kabel tegangan rendah jenis low voltage twisted cable (LVTC) juga aman ditempel penjor.
"Tidak semua kabel PLN tenget (harus bebas dari sentuhan penjor). Jika ada kabel berisolasi tersebut terkelupas dan mengakibatkan fatal, tentu 100 persen akibat kelalaian PLN," bebernya.
Ia mengajak segenap umat Hindu membuat dan mendirikan penjor dengan tetap memperhatikan keamanan, dengan mengenali kabel di sekitar dengan aman.
"Jika tidak kenal atau tidak paham telp PLN dengan nomor 123. Jika gegabah dan kesetrum yang rugi kita sendiri. Atas nama Ketua Umum Paiketan Krama Bali saya menyampaikan Selamat Merayakan Hari Raya Galungan dengan khidmat, cerdas, damai dan selamat," ujarnya.
Kepada PLN ke depannya pihaknya mengimbau untuk melakukan sosialisasi dengan metode yang tepat oleh aktor yang tepat.
Hal-hal yang bersentuhan dengan eksistensi tradisi, adat, budaya dan agama, gunakanlah aktor yang tepat.
Selain itu, intonasinya juga harus tepat bukan memerintah, tetapi koordinatif sifatnya, dengan dialog-dialog yang elegan. (*)
Berita lainnya di Penjor di Bali
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/I-GN-Kesuma-Kelakan-atau-Alit-Kelakan-145.jpg)