Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Bali

Buat Teba Modern Tapi Punya Pekarangan, Ini Solusi Alternatif Kelola Sampah Organik di Rumah 

Buat Teba Modern Tapi Punya Pekarangan, Ini Solusi Alternatif Kelola Sampah Organik di Rumah 

Istimewa
TEBA MODERN – Pekerja menyelesaikan pembuatan teba modern di Desa Sanur Kauh, Kota Denpasar. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR — Teba modern diyakini dapat membantu mengurai sampah organik yang dihasilkan di rumah.

Teba modern berbentuk seperti sumur yang terbuat dari beton namun tak sedalam sumur. Biasanya teba modern memiliki lubang sedalam sekitar 2 meter yang dindingnya diperkuat buis beton (cincin beton sumur). 

Cara bekerja teba modern mengurai sampah organik yakni dengan memasukan sampah organik ke dalam teba modern dan ditutup hingga kurang lebih selama tiga bulan. Kini masyarakat mulai bergerak untuk membuat teba modern di masing-masing rumah sebab TPA Suwung akan berhenti beroperasi pada 23 Desember 2025. 

Baca juga: Sampah di Bali Pada Tahap Obati Bukan Antisipasi, Beach Clean Up Sasar Pantai Kuta

Menanggapi hal tersebut, Kreator Lingkungan Vaniaf Herlambang (28) ketika ditemui di Pantai Kuta mengatakan penutupan TPA Suwung merupakan momentum untuk bergerak cepat atasi permasalahan sampah

“Inilah momentum yang kita harus gerak cepat juga jangan sampai makin kebablasan lagi,” jelasnya pada acara Beach Clean Up di Pantai Kuta, Sabtu 13 Desember 2025. 

Baca juga: Jamda Bali 2025 Jadi Momentum Penguatan Karakter Pramuka Klungkung Bali

Lebih lanjutnya ia mengatakan sampah rumah tangga yang paling banyak dihasilkan adalah sampah organik. Sehingga penerapan teba modern itu sudah paling efektif. Agar sampah organik beres di rumah, tidak sampai keluar dari rumah. Sebab sampah organik dibawa ke TPA dan tercampur dengan sampah non organik serta residu pasti akan membusuk lalu menghasilkan gas metana dan mempersulit juga untuk proses pemilahan daur ulang.

 


“Jadi organik itu 60 persen lah untuk rumah tangga biasanya komposisinya paling banyak jadi paling penting nyelesain sampah organik dulu. Kemudian pemilahan sampah, baik itu sampah plastik yang bisa didaur ulang gitu ya atau kaleng-kaleng yang bisa didaur ulang. Kemudian sampah residu terakhir yang tidak bisa didaur ulang itu yang mungkin larinya nanti ke insenerasi atau waste to energy seperti itu,” sambungnya. 

 


Lantas bagaimana bagi masyarakat yang tidak cukup memiliki lahan untuk membuat teba modern? Sebab rumah yang kecil atau sedang menyewa kost, menjawab hal tersebut Vaniaf mengakui memang privilege teba modern itu untuk rumah yang memiliki lahan atau kebun. 

 


“Aku lihat waktu itu ke daerah Batubulan kalau enggak salah beliau itu pencetus teba modern, itu bisa sharing. Jadi satu lubang itu untuk beberapa rumah tangga misalnya. Jadi tebanya sharing karena kan besar ya kapasitasnya bisa disesuaikan juga. kemudian yang kedua bisa juga dengan metode kompos modular di rumah atau lubang biopori yang lebih lebih kecil ukurannya misalnya,” terangnya. 

 


Dengan cara tersebut memang dibutuhkan effort untuk mengaduk hasil kompos modular. Cara lain menyiasati keterbatasan lahan dapat menggunakan maggot untuk mengurai sampah organik. 

 


“Jadi bukan belatung tapi mirip belatung tapi maggot bisa mengkompos sampah organik buat di rumah untuk ukuran sampah rumah tangga menurut aku cukup tidak makan tempat gitu ya dan itu sangat efektif lah cepat ngabisin si sampah organik itu enggak sampai bulanan seminggu pun udah udah bisa terkelola sama si maggot itu bisa alternatif juga,” pungkasnya. 

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved