Berita Bali
Tegak Nyepi Akan Dipindah ke Tilem Kasanga, Begini Komentar Menohok Ari Dwipayana:
Tegak Nyepi Akan Dipindah ke Tilem Kasanga, Begini Komentar Menohok Ari Dwipayana:
Penulis: Putu Supartika | Editor: Aloisius H Manggol
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Pasamuhan Agung Sabha Kretha Hindu Dharma Nusantara (SKHDN) Pusat tahun 2025 yang digelar pada Selasa, 30 Desember 2025 di Gedung Wiswa Sabha Utama Kantor Gubernur Bali salah satunye membahas terkait tegak Nyepi.
Dalam paruman tersebut, Ketua Umum SKHDN Pusat, Ida Shri Bhagawan Putra Nata Nawa Wangsa Pamayun menjelaskan, sebelum tahun 1981, Nyepi dilaksanakan bertepatan dengan Tilem Kasanga.
Hal tersebut menurutnya termuat dalam beberapa lontar seperti Lontar Sundarigama, Kuttara Kanda hingga Batur Kalawasan.
Baca juga: Polda Bali Berhasil Ungkap 3.427 Kasus Sepanjang Tahun 2025
Terkait wacana tegak Nyepi tersebut, Ketua yayasan Puri Kauhan Ubud, Anak Agung Gde Ngurah Ari Dwipayana menyebut hal tersebut terlalu terburu-buru dan dipaksakan.
Selain itu, tak hal ini juga tak didasarkan pada pijakan kajian yang kuat, serta tidak memiliki urgensi atau relevansi dengan problem keumatan khususnya di Bali.
Baca juga: Malam Pergantian Tahun, Tidak Ada Pesta Kembang Api di Buleleng Bali, Siapkan 4.000 Nasi Jinggo
Ari Dwipayana pun mengungkapkan lima alasan keputusan dalam Pasamuhan Agung SKHDN dan didukung Gubernur Bali ini grasa-grusu.
"Pertama, keputusan itu tidak didasarkan kajian yang komprehensif dan hanya merujuk sumber sastra sepihak. Padahal dasar penetapan Tawur Kesanga pada Tilem Kesanga dan Nyepi pada penanggal pisan juga memiliki sumber-sumber sastra dan juga dipraktekan sejak masa lalu berdasarkan perhitungan wariga dan juga pengamatan astronomi wilayah nusantara yang berada garis equator atau katulistiwa," ungkapnya, Rabu, 31 Desember 2025.
Menurutnya, seharusnya sumber sastra yang dipakai acuan harus komprehensif dan tidak hanya lontar tertentu saja.
Kedua, keputusan ini juga tidak mempertimbangkan dasar-dasar yang digunakan oleh para lingsir terdahulu, baik saat memutuskan pada tahun 1981 atau sebelumnya yang menetapkan Nyepi di penanggal apisan sasih kadasa.
Ketiga, Upacara Tawur Agung di Pura Agung Besakih, terutama Eka Dasa Ludra yang menandai tahun saka berakhir 00 (tenggek windu rah windu) juga dilakukan pada Tilem Kasanga bukan sehari sebelum Tilem atau perwani.
Keempat, tradisi Nyepi tidak saja terkait dengan tawur kasanga tetapi ada tradisi Nyepi Segara, Nyepi Abian yang diselenggarakan sehari setelah Ngusaba Segara atau Ngusaba Abian.
Sehingga menurutnya, Nyepi adalah upaya memulihkan alam setelah dilakukan upacara ngusaba atau tawur.
Dan alasan kelima, keputusan ini tidak dimulai dengan kajian mendalam dari para ahli wariga dan juga para pakar dari universitas Hindu se-Indonesia.
Kajian ini penting agar wacana ini menjadi perbicangan dan perdebatan dilihat dari berbagai perspektif.
Akademisi UGM ini juga menilai jika keputusan ini tidak memiliki urgensi pada masalah umat di Bali maupun nusantara.
| LBH Bali Soroti Intervensi Aparat dalam Pembatalan Nobar Film Pesta Babi |
|
|---|
| Sembako Terancam Dikenakan Pajak, I Nyoman Parta: Tanpa Pajak Saja Rakyat Sudah Sulit Makan |
|
|---|
| Libur Panjang Kenaikan Isa Almasih, Pertamina Patra Niaga Tambah 147 Ribu Tabung LPG 3 Kg di Bali |
|
|---|
| Akad Massal KUR 1.000 UMKM Kreatif Bali, Pusat Perluas Akses Pembiayaan dan Digitalisasi |
|
|---|
| Menko Cak Imin Minta Pelaku UMKM Bali Selalu Jaga Kualitas dan Mutu Produknya |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Ketua-Yayasan-Puri-Kauhan-Ubud-Anak-Agung-Gde-Ngurah-Ari-Dwipayana-x.jpg)