Nyepi Di Bali
Hasil Keputusan Pesamuhan PHDI Bali Soal Nyepi: Tak Perlu Diperdebatkan
PHDI Bali memutuskan Tawur Kasanga tetap digelar pada Tilem Kasanga dan keesokan harinya Nyepi.
Penulis: Putu Supartika | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
“Penyepian itu implikasinya atau runutan tawur, makanya ada nyepi desa, nyepi segara,” paparnya.
Ia juga menyebut, dalam Babad Pasek dan Babad Bendesa Mas, sejak tahun 1189 Masehi, tawur digelar saat Tilem, termasuk Tawur Kasanga. “Itu adalah bhisama dalam Babad Pasek dan Babad Bendesa Mas. Di era Jaya Pangus, kemudian Dinasti Jaya sudah disebutkan,” paparnya.
Ia menambahkan, jika ingin tahu agama Bali, wajib dibaca Lontar Usana Bali. Karena dalam lontar tersebut, semua pecaruan, hingga bebantenan dituliskan dengan pusat mandalanya berada di Besakih.
Tak hanya itu, di semua pura kuno seperti Andakasa, Besakih, Pucak Mangu, Tirta Empul, tidak ada mengatakan tawur sebelum Tilem. Bahkan dilarang melakukan tawur sebelum Tilem.
Di tahun 1960, karena menggunakan sumber Lontar Sundarigama yang tidak lengkap dan penafsiran yang keliru pernah dilaksanakan Tawur sehari sebelum Tilem. Dan menurutnya, selama 10 tahun pelaksanaannya banyak menimbulkan kejadian seperti Gunung Agung meletus hingga kejadian G-30 September.
Di tahun 1970, tokoh-tokoh pergerakan Hindu Bali modern kemudian mengembalikan Tawur ke Tilem Kasanga dan Nyepi penangbal apisan sasih Kadasa.
Para tokoh itu yakni I Gusti Bagus Sugriwa, Ida Bagus Kayan Rasa, I Pasek Wayan Ryeh, Ida Bagus Wayan Gede, I Nyoman Patra, Rsi Anandakusuma, Ida Bagus K. Oka, Wayan Guru Ketut Kandya yang merumuskan Hindu Bali dan menganulir keputusan 1960.
Bahkan mereka kemudian bertemu Bung Karno di Tampaksiring untuk mendaftarkan Hindu Bali dan merumuskan Hindu Bali modern.
Tokoh-tokoh ini kemudian membuat kalender dewasa Bali tahun 1971 dan mengembalikan pelaksanaan tawur kasanga saat Tilem.
Sugi Lanus menambahkan, dari 700 lontar yang dimilikinya, tak ada yang ditemukannya menyebut tawur saat perwani atau sehari sebelum Tilem.
Lontar Dewa Tatwa, Lontar Bhama Kertih juga menyebut pelaksanaan tawur saat Tilem.
Lontar Sang Hyang Widhisastra dan Haji Swamandala yang merupakan lontar pokok Kerajaan Gelgel dan parahyangan Besakih juga berkata demikian.
“Awig-awig kuno 400 desa di Bali yang saya baca juga menyebut Bhuta Yadnya, Tawur Kasanga jatuh pada Tilem,” katanya.
-----------------------
NEWS ANALYSIS
Mengacaukan Logika Kosmik dan Teks Sastra
I Made Gami Sandi Untara | Akademisi IAHN Mpu Kuturan
Wacana mengenai pelaksanaan Hari Raya Nyepi yang digeser ke Tilem Kasanga mendapat sorotan tajam dari berbagai kalangan. I Made Gami Sandi Untara, akademisi dari Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan, menegaskan bahwa secara filosofis, astronomis, dan tekstual sastra kuno, pelaksanaan Tawur memang harus dilaksanakan saat Tilem Kasanga.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/seminar-PHDI-nyepi.jpg)