Nyepi Di Bali
Hasil Keputusan Pesamuhan PHDI Bali Soal Nyepi: Tak Perlu Diperdebatkan
PHDI Bali memutuskan Tawur Kasanga tetap digelar pada Tilem Kasanga dan keesokan harinya Nyepi.
Penulis: Putu Supartika | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Dalam pemaparannya pada seminar yang digelar PHDI Bali, Jumat (9/1), ia menjelaskan bahwa Tilem Kesanga secara energi merupakan puncak dari kekuatan Bhuta Kala.
“Tilem adalah fase tergelap, fase akhir sasih. Di sinilah puncak energi Bhuta Kala yang harus dinetralisir, sehingga perlu ada Caru atau Tawur. Sementara Brata Penyepian dilaksanakan pada Penanggal Apisan atau sehari setelahnya,” ujarnya.
Gami Sandi menyoroti pentingnya kehati-hatian dalam menafsirkan lontar. Bahkan ia pun merujuk pada Kakawin Negarakertagama yang mencatat pola Tawur dilaksanakan saat Tilem, sedangkan Brata Penyepian dilakukan pada penanggal apisan. Ia juga mengkritisi cara pembacaan naskah Lontar Sundarigama yang kerap dijadikan rujukan tunggal.
Menurutnya, dalam filologi, teks lontar tidak bisa berdiri sendiri. “Lontar Sundarigama bukan naskah tunggal. Kita harus melihat penafsiran yang menerjemahkan teks tersebut. Kalau hanya mengutip dari satu versi naskah saja, itu adalah kesalahan akademik yang serius,” tegasnya.
Dari sisi astronomi, momentum Tilem Kesanga bertepatan dengan Bajeging Surya atau Equinox, di mana posisi alam berada dalam keseimbangan titik nol. Berdasarkan materi yang dipaparkan, kalender saka Bali yang menggunakan sistem Surya Candra menempatkan Tilem Kesanga presisi di bulan Maret dekat Equinox. Menggeser Nyepi ke Tilem Kesanga dinilai akan memutus sinkronisasi Surya Candra.
Secara astronomi, Tilem adalah fase ketiadaan cahaya yang melambangkan Pralina (peleburan/akhir). Momen ini tepat untuk Tawur, namun tidak logis jika dijadikan awal kehidupan (Utpatti).
Lebih jauh, Gami Sandi menguraikan kajian filosofis dalam kerangka Tri Kona. Tilem berada pada fase Pralina, sementara Penanggal Apisan menandai Utpatti (penciptaan). Nyepi, secara filosofis adalah ambang transisi di antara keduanya.
“Jika Nyepi ditegakkan atau dipaksakan pada Tilem Kesanga, maka Pralina dipaksakan menjadi Utpatti. Hal ini akan mengacaukan logika ontologis serta merusak struktur dialektis siklus kosmik,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa Nyepi adalah bentuk etika kosmik, sebuah latihan kolektif manusia untuk menyelaraskan diri dengan ritme alam (Rta). Memindahkan Nyepi ke Tilem Kesanga sama artinya dengan memaksa kosmos untuk tunduk pada tafsir manusia, padahal sejatinya manusialah yang harus menghormati hukum alam. (*)
Berita lainnya di Nyepi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/seminar-PHDI-nyepi.jpg)