Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Sampah di Bali

Warga Denpasar Bali Bingung Kelola Sampah, Bakar Sampah Masih Jadi Pilihan

Pengusaha F&B Terdampak TPA Suwung Bali Tak Terima Sampah Organik, Bakar Sampah Masih Jadi Pilihan

Tribun Bali/ISTIMEWA
BAKAR SAMPAH – Warga tampak membakar sampah di kawasan jalan Hayam Wuruk, menuju Hang Tuah Kota Denpasar, Rabu (8/4).  

“Market Eropa sudah mulai masuk. Kita ada market Turki, biasanya itu seminggu dua kali, mini grup saya bilang minimal 25 sampai 40 orang. Sudah mulai di 1 April,” kata dia.

Adi tak dapat memprediksi kapan kunjungan wisatawan mulai ramai kembali. Sebab belum ada informasi resmi dari travel agent yang juga belum dapat memastikan reservasi.

“Mereka (travel agent) masih tentatif. Karena tiket (pesawat) mahal. Susah juga mereka buat market. Kita dengan travel agent kerja sama, ada contract rate. Harusnya contract rate berakhir Maret dan 1 April sudah mulai baru. Namun kita belum berani membuat kontrak baru. Khawatirnya kita buat kontrak, BBM (Bahan Bakar Minyak) naik. Otomatis semua lini itu naik, lagi kita revisi. Makanya rencana sebulan ini kita coba evaluasi,” jelas Adi. (sar)

Pangkas Anggaran untuk Penanganan Sampah

Pemerintah Kota (Pemkot) melakukan pemangkasan anggaran untuk penanganan sampah. 

Anggaran penataan Jalan Hasanuddin, Jalan Thamrin, Jalan Gajah Mada, dan Jalan Sulawesi Denpasar dipangkas. Hasil pemangkasan tersebut dialihkan untuk penanganan sampah. 

Adapun anggaran penataan kawasan pusat kota tersebut sebelumnya Rp 137 miliar. Dari pemangkasan itu, kini tersisa Rp 83 miliar.

Hal ini dikatakan Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Denpasar, Anak Agung Ngurah Bagus Airawata. 

Dijelaskan, pemangkasan anggaran berdampak pada cakupan pengerjaan yang tidak lagi menyeluruh seperti rencana awal. 

“Kemungkinan hanya Jalan Hasanudin, Jalan Gajah Mada, dan Jalan Sulawesi yang ditangani lebih dulu. Untuk Jalan Thamrin kemungkinan menyusul sesuai ketersediaan anggaran,” paparnya.

Nantinya, anggaran yang tersisa akan dimaksimalkan untuk penataan prioritas. 

Hal ini termasuk perbaikan senderan bantaran Tukad Badung serta pedestrian di kawasan Jalan Sulawesi yang sebelumnya mengalami longsor.

Airawata mengakui, idealnya penataan bantaran Tukad Badung dilakukan secara menyeluruh dengan konsep bangunan mundur sejauh tiga meter dari sempadan sungai. 

Namun, pelaksanaan di lapangan masih bergantung pada kesepakatan dengan pemilik bangunan di sekitar lokasi. 

Apabila belum ada kesepakatan, penanganan difokuskan pada titik yang sudah amblas dengan panjang sekitar 32 meter dan lebar 3 meter. Saat ini, proyek penataan tersebut masih dalam tahap tender pengawasan.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved