Berita Bali
Dinas Kesehatan Catat HIV Bertambah 2.039 Kasus di Bali, 31 Persen Pasien Dari Luar Bali
Pasien HIV akan tercatat sebagai pasien HIV seumur hidup, dan jumlah kasus 2.039 merupakan kasus baru di tahun 2025.
Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR — Jumlah kasus HIV di Bali kian bertambah.
Dinas Kesehatan Provinsi Bali mencatatkan data kasus baru HIV akses pengobatan di Provinsi Bali pada tahun 2025 sejumlah 2.039, dan 31 persen berasal dari luar Bali.
Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (PPP) Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Bali, dr. I Gusti Ayu Raka Susanti, M.Kes. Raka Susanti.
Ia menjelaskan, mengapa kasus HIV cukup tinggi di Bali, karena data HIV itu adalah setiap pasien HIV yang mengakses pengobatan.
Baca juga: Penambahan Kasus HIV AIDS di Denpasar Setiap Tahunnya Capai 900 Kasus
"Dan kenyataannya memang banyak sekali, pasien-pasien di luar Provinsi Bali yang mengakses pengobatan di Bali karena memang mungkin mereka tidak ingin diketahui di wilayahnya. Jadi itu yang salah satu faktor yang mungkin menyebabkan juga banyak yang mengakses pengobatannya di Bali," jelasnya pada Selasa 21 April 2026.
Terlebih di Bali juga terdapat wisatawan mancanegara, sehingga memungkinkan untuk kasus HIV di Bali cukup tinggi.
Pasien HIV akan tercatat sebagai pasien HIV seumur hidup, dan jumlah kasus 2.039 merupakan kasus baru di tahun 2025.
Jadi 2.039 pasien HIV baru ini merupakan pasien yang memang mengakses serta melakukan pemeriksaan pengobatan di Bali, sehingga kasusnya terdetect di Bali.
"Kemudian pengobatan di sini (Bali), masuk datanya ke kita. Walaupun dari mana pun dia. Karena banyak juga bule yang mengakses pengobatan di sini kalau dia tidak punya KITAS kan dia mandiri, itu tetap tercatat di kita kalau pengobatannya mandiri gitu," paparnya.
Sementara itu pada Sistem Informasi HIV/AIDS (SIHA) dengan pencatatan pelaporan satu orang menggunakan NIK.
Sehingga data yang ada memang sesuai dengan namanya, tidak ada double data.
Untuk kasus positif HIV di luar Bali lalu melanjutkan pengobatan di Bali datanya akan tetap masuk di Bali.
Sebab mengambil obatnya di Bali, terlebih distribusi obat ini dari Pemerintah Pusat, berapa yang dihabiskan harus sesuai dengan jumlah pasien. Sehingga yang dilaporkan adalah orang yang mengakses pengobatan.
"Harus diakui kami di Bali untuk layanan HIV/AIDS sudah sangat baik, sehingga banyak diakses oleh orang luar yang melakukan pemeriksaan seperti itu," katanya.
Penyebaran HIV melalui hubungan seksual, kemudian melalui kontak cairan seperti misalnya transfusi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Dinas-Kesehatan-Catat-HIV-Bertambah-2039-Kasus-di-Bali-31-Persen-Pasien-Dari-Luar-Bali.jpg)