Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Bali

Ancaman Stroke di Indonesia Hampir Saingi Penyakit Jantung, Bali Dinilai Mumpuni

Affan Priyambodo, Sp.BS, Subsp.N-Vas, menegaskan bahwa stroke adalah kondisi darurat medis yang tidak mengenal kompromi waktu. 

Tribun Bali/Adrian Amurwonegoro
Suasana BLINC 2026 di Bali International Convention Center, Nusa Dua, Badung, Bali pada 27–28 April 2026. Ancaman Stroke di Indonesia Hampir Saingi Penyakit Jantung, Bali Dinilai Mumpuni 

TRIBUN-BALI. COM, MANGUPURA – Angka kasus stroke di Indonesia kini mencapai prevalensi 10,9 per 1.000 penduduk, menempatkannya sebagai salah satu beban pembiayaan kesehatan terbesar yang hampir menyaingi penyakit jantung

Fenomena mengkhawatirkan ini menjadi sorotan utama dalam Bali International Neurovascular Intervention Conference (BLINC) 2026 yang berlangsung di Bali International Convention Center, Nusa Dua, Badung, Bali pada 27–28 April 2026.

Isu terkait stroke dan gangguan pembuluh darah ini mendesak untuk ditangani secara serius mengingat dampaknya yang fatal. 

Berdasarkan data Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tahun 2024, penyakit kardiovaskular tetap menjadi penyebab utama kematian di Indonesia. 

Baca juga: MOESYE Ditemukan Tak Bernyawa di Setra, Korban Punya Riwayat Mengidap Stroke Ringan dan Diabetes!

Hal ini didukung oleh studi kohort Penyakit Tidak Menular (PTM) sepanjang dekade 2011-2021 yang menunjukkan tren peningkatan kasus secara konsisten.

Ketua BLINC 2026, dr. Affan Priyambodo, Sp.BS, Subsp.N-Vas, menegaskan bahwa stroke adalah kondisi darurat medis yang tidak mengenal kompromi waktu. 

Menurutnya, keberhasilan pemulihan pasien sangat bergantung pada seberapa cepat intervensi dilakukan, bahkan sebelum pasien menginjakkan kaki di rumah sakit.

“Penanganan stroke sangat bergantung pada kecepatan. Idealnya, terapi obat bisa diberikan dalam waktu kurang dari 4,5 jam sejak gejala muncul. Di atas itu, intervensi lanjutan seperti kateterisasi bisa dilakukan,” ujar dr. Affan dalam konferensi pers. 

Pernyataan tersebut diamini oleh Wakil Ketua Konferensi BLINC 2026, Dr. dr. Kumara Tini, Sp.S (K), FINS, FINA. 

Ia menambahkan bahwa jendela waktu 24 jam pertama merupakan periode emas yang menentukan apakah seorang pasien bisa pulih total atau harus menghadapi kecacatan permanen sepanjang hidupnya.

Selain faktor genetik, ledakan kasus stroke di Indonesia saat ini dipicu secara masif oleh pergeseran gaya hidup masyarakat yang tidak sehat. 

Pola hidup sedentari atau kurang gerak, ditambah dengan hipertensi dan diabetes yang tidak terkontrol, menjadi bom waktu bagi kesehatan pembuluh darah otak.

“Stroke saat ini banyak dipicu oleh gaya hidup. Kurang bergerak, pola makan tidak sehat, dan penyakit penyerta seperti darah tinggi harus diantisipasi sejak dini,” tuturnya. 

Di sisi lain, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan terus berupaya memperkuat infrastruktur medis dengan mendistribusikan alat canggih seperti CT scan, MRI, hingga fasilitas cath lab ke berbagai daerah. 

Namun, dr. Affan memberikan catatan kritis bahwa keberadaan alat-alat modern tersebut akan sia-sia tanpa kesiapan tenaga medis yang mumpuni. 

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved