Berita Bali
Nilai Dolar Naik Bukan Sekadar Untung Selisih Kurs, Eksportir Kerajinan Bali Hadapi Dilema Produksi
Hani merinci bahwa komponen biaya produksi, khususnya bahan finishing, telah melonjak hingga kisaran 32 persen.
Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR — Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terjadi belakangan ini mulai berdampak serius pada sektor industri mebel dan kerajinan di Bali.
Alih-alih meraup untung dari selisih kurs, para eksportir justru mengeluhkan lonjakan biaya produksi yang tak terkendali.
Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Bali, Hani Duarsa, mengungkapkan bahwa anggapan eksportir diuntungkan oleh kenaikan dolar adalah kekeliruan secara riil di lapangan.
Menurutnya, kenaikan kurs ini justru memicu pembengkakan biaya operasional yang sangat signifikan.
Baca juga: Pengeluaran Turis High Spender 2 Ribu Dollar Saat Berlibur, Pemda Diminta Berikan Ruang
"Pelemahan rupiah ini tidak serta-merta membawa keuntungan bagi industri mebel dan kerajinan. Sebab beberapa material pendukung produksi, seperti bahan finishing, masih bergantung pada impor. Begitu juga dengan beberapa komponen mebel yang dibeli menggunakan dolar. Akibatnya, kenaikan kurs ini justru menaikkan biaya produksi," ujar Hani Duarsa ketika dikonfirmasi, Sabtu 23 Mei 2026.
Hani merinci bahwa komponen biaya produksi, khususnya bahan finishing, telah melonjak hingga kisaran 32 persen.
Belum lagi biaya transportasi rute Denpasar-Surabaya yang mengalami kenaikan hingga 100 persen mulai bulan Maret 2026.
Kondisi ini membuat para pengusaha kesulitan mengatur perencanaan arus kas (cash flow).
"Saya pribadi kesulitan sekali mengatur perencanaan, terutama mengatur cash flow. Karena tiba-tiba dolar naik sekian, dalam beberapa hari sudah naik lagi. Kebingungan sebetulnya kita di situasi ketidakpastian ini," tambahnya.
Ketidakpastian nilai tukar ini juga merusak stabilitas harga jual di pasar internasional.
Jika biasanya pengusaha berani memberikan jaminan harga tetap selama satu tahun, kini penyesuaian harga harus dilakukan setiap kali pesanan (purchase order) masuk.
Hal ini memicu reaksi negatif dari para pembeli (buyer), terutama di pasar utama seperti Amerika Serikat.
Hani mencatat adanya penurunan volume permintaan hingga 20 persen akibat harga yang dianggap tidak lagi masuk akal oleh pembeli.
"Ada pengalaman buyer saya meng-cancel order karena harganya tiba-tiba sangat tidak masuk akal. Karena biaya finishing naik, biaya transport naik, jadi setiap ada order yang turun, kita bahas lagi dengan buyer. Dampaknya, mereka mengurangi kuantitas pesanan," jelasnya.
Situasi ini membuat industri kerajinan Bali semakin tertekan di tengah persaingan global dengan negara-negara seperti Vietnam, India, dan Cina.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Nilai-Dolar-Naik-Bukan-Sekadar-Untung-Selisih-Kurs-Eksportir-Kerajinan-Bali-Hadapi-Dilema-Produksi.jpg)