Opini
Bali, Tanah Penghidupan dan Persaudaraan dalam Semangat Pancasila
Apa yang terjadi di Bali bisa menjadi cermin bagi daerah lain bahwa Indonesia yang majemuk tetap mungkin hidup rukun.
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Setiap tanggal 1 Juni, Bangsa Indonesia kembali diingatkan pada satu peristiwa besar dalam sejarahnya, yakni lahirnya Pancasila.
Namun, memperingati hari lahir Pancasila tidak cukup hanya dengan upacara dan pidato. Pancasila sejatinya hidup di jalanan, di pasar, maupun di kelas-kelas perkuliahan.
Di Bali, semua itu terlihat jelas. Pulau ini bukan sekadar tujuan wisata yang menjual keindahan pantai dan pura, melainkan juga tanah tempat ribuan orang dari berbagai penjuru Nusantara mengadu nasib dan menyambung hidup.
Saya menyaksikan sendiri bagaimana Bali menjadi ruang perjumpaan banyak wajah Indonesia.
Baca juga: Pembangunan Museum Agung Pancasila Menjadi Perhatian Terkait Aspek Tata Ruang
Di kampus tempat saya mengajar, ada dosen dan mahasiswa yang berasal dari Jawa, Sumatra, Nusa Tenggara, hingga Papua.
Di lingkungan tempat saya tinggal di Denpasar, terdapat pedagang Madura berdampingan dengan pedagang Bali.
Di hotel-hotel, pekerja dari berbagai daerah dan keyakinan saling membantu menyiapkan kamar dan menyambut tamu.
Sopir, buruh bangunan, nelayan, pelaku usaha mikro, hingga pengusaha besar, semuanya berbaur.
Mereka berbeda suku, agama, bahasa, dan budaya, tetapi sama-sama menggantungkan harapan pada tanah yang sama. Inilah wajah Bali yang sebenarnya. Ia adalah miniatur Indonesia, tempat keberagaman bukan teori melainkan kenyataan sehari-hari.
Orang datang ke Bali bukan untuk menghapus jati dirinya, melainkan untuk mencari penghidupan sambil tetap membawa keyakinannya.
Pendatang turut menghidupkan ekonomi, sementara masyarakat lokal membuka ruang dan menjaga tradisi yang menjadi daya tarik pulau ini.
Keduanya saling membutuhkan, saling menopang, dan pada akhirnya bersama-sama membangun Bali.
Tentu, hidup berdampingan dalam keberagaman tidak selalu mudah.
Perbedaan kadang melahirkan gesekan, prasangka, bahkan kecurigaan.
Ada yang merasa pendatang mengambil terlalu banyak, ada pula yang merasa asing di tanah orang.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Kadek-Indra-Dewan-Tara-SH-MH-Akademisi-Fakultas-Hukum-Universitas-Pendidikan.jpg)