Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Opini

Bali, Tanah Penghidupan dan Persaudaraan dalam Semangat Pancasila

Apa yang terjadi di Bali bisa menjadi cermin bagi daerah lain bahwa Indonesia yang majemuk tetap mungkin hidup rukun.

Tayang:
Istimewa
Kadek Indra Dewan Tara, S.H., M.H. Akademisi Fakultas Hukum, Universitas Pendidikan Nasional. Bali, Tanah Penghidupan dan Persaudaraan dalam Semangat Pancasila 

Di sinilah peran masyarakat lokal dan pendatang menjadi sangat menentukan. 

Masyarakat Bali yang dikenal ramah perlu terus membuka tangan bagi siapa saja yang datang dengan niat baik. 

Sebaliknya, para pendatang wajib menghormati adat, tradisi, dan kearifan lokal yang menjadi denyut kehidupan pulau ini. 

Menghormati upacara keagamaan, menjaga kebersihan, dan tidak merusak tatanan sosial adalah bentuk sederhana dari penghargaan terhadap tanah yang menghidupi mereka.

Saya sering melihat contoh kecil yang menyentuh hati. Ketika Hari Raya Nyepi tiba, para pendatang dari berbagai agama ikut menghormati keheningan, menahan diri, dan tidak keluar rumah. 

Sebaliknya, ketika perantau merayakan Idulfitri atau Natal, tetangga Bali turut menjaga suasana dan mengucapkan selamat. 

Di warung-warung makan, orang dari berbagai daerah duduk bersama tanpa banyak bertanya soal asal-usul. 

Inilah Pancasila yang hidup, bukan dalam seremoni, melainkan dalam laku sehari-hari.

Karena itu, peringatan hari lahir Pancasila semestinya menjadi momentum untuk merenung.

Bali telah membuktikan bahwa keberagaman bukan ancaman, melainkan kekuatan. 

Pulau kecil ini sanggup menampung jutaan harapan Indonesia, baik lokal maupun pendatang, memilih persaudaraan di atas perbedaan. 

Apa yang terjadi di Bali bisa menjadi cermin bagi daerah lain bahwa Indonesia yang majemuk tetap mungkin hidup rukun.

Pada akhirnya, Bali mengajarkan satu hal sederhana namun mendalam. 

Tanah ini tidak pernah bertanya dari mana seseorang berasal sebelum memberinya penghidupan. 

Ia hanya meminta satu hal, yaitu agar mereka yang datang dan yang menerima sama-sama menjaganya dengan kasih. 

Selama semangat itu terpelihara, Pancasila tidak akan pernah menjadi sekadar peringatan tahunan. 

Ia akan terus hidup, tumbuh, dan bersinar di tanah penghidupan dan persaudaraan bernama Bali.

Penulis: Kadek Indra Dewan Tara, S.H., M.H. Akademisi Fakultas Hukum, Universitas Pendidikan Nasional

Kumpulan Artikel Bali

Sumber: Tribun Bali
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved