Hari Raya Galungan
Sejarah dan Makna Hari Raya Galungan Besok 17 Juni 2026, Simak Ulasannya!
Berikut adalah Sejarah dan Makna Hari Raya Galungan Besok 17 Juni 2026, Simak Ulasannya!
Pada 20 Juni 2026 terdapat hari Pemaridan Guru yang berkaitan dengan penghormatan kepada guru spiritual.
Lalu 21 Juni 2026 berlangsung Ulihan, yang dimaknai sebagai kembalinya para leluhur setelah beberapa hari berada di rumah keturunannya.
Selanjutnya pada 22 Juni 2026 ada Pemacekan Agung, rerahinan yang dipercaya baik untuk berbagai kegiatan ritual tertentu.
Menjelang Kuningan, umat Hindu kembali disibukkan dengan persiapan upakara.
Pada 24 Juni 2026 jatuh Buda Paing Kuningan yang sering dijadikan momentum persembahyangan memohon keselamatan dan kesejahteraan.
Kemudian 26 Juni 2026 merupakan Penampahan Kuningan.
Berbeda dengan Penampahan Galungan yang berlangsung meriah, suasana Penampahan Kuningan biasanya lebih sederhana namun tetap sakral.
Puncaknya berlangsung pada 27 Juni 2026 dengan Hari Raya Kuningan.
Hari raya ini dipercaya sebagai momen kembalinya para leluhur ke alam niskala setelah sebelumnya turun saat Galungan.
Persembahyangan Kuningan memiliki kekhasan berupa penggunaan nasi kuning dan tamiang sebagai simbol perlindungan dan kemakmuran.
Pada hari yang sama juga bertepatan dengan Kajeng Keliwon Enyitan yang memperkuat nuansa spiritual di Bali.
Rangkaian rerahinan Juni 2026 kemudian ditutup dengan Purnama pada 29 Juni 2026.
Hari bulan penuh ini menjadi waktu suci bagi umat Hindu untuk melakukan persembahyangan dan memohon sinar suci Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Baca juga: Makna Hari Penyajaan Galungan 15 Juni 2026: Persiapan Jaje Uli hingga Pengendalian Diri
Sejarah Perayaan Galungan
Sejarah pasti awal mula perayaan Galungan masih belum diketahui dengan jelas.
Namun, menurut Lontar Purana Bali Dwipa, Galungan pertama kali dirayakan pada hari Purnama Kapat (Budha Kliwon Dungulan) pada tahun 882 Masehi atau 804 Saka.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Ilustrasi-sembahyangjuni.jpg)