Bisnis
KURS Rupiah Diproyeksi Menguat Tipis, Amerika Serikat Rilis Inflasi untuk September Naik 0,2 Persen
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bertahan di sekitar 4%, menandakan tekanan kenaikan biaya dan dolar AS mereda.
TRIBUN-BALI.COM - Kurs rupiah diproyeksi kembali menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin (27/10).
Sekadar mengingatkan, berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot menguat 0,16 persen secara harian ke Rp 16.602 per dolar AS pada Jumat (24/10). Adapun mengacu Jisdor Bank Indonesia (BI) rupiah menguat 0,09 % secara harian ke level Rp 16.630 per dolar AS.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede mengatakan, rilis inflasi inti Amerika Serikat untuk September naik 0,2 % secara bulanan atau month to month (mtm) dan dibaca pasar sebagai konfirmasi bahwa bank sentral AS berpeluang memangkas suku bunga pada pertemuan pekan ini.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bertahan di sekitar 4 % , menandakan tekanan kenaikan biaya dan dolar AS mereda.
Baca juga: NYAWA 38 Orang Melayang Akibat Kecelakaan di Jembrana, Banyak Case Pelajar atau Anak di Bawah Umur!
Baca juga: JASAD Mandor Ditemukan dengan Luka Leher Menganga, Keluarga Minta Pelaku Pembunuhan Wayan Ditangkap!
Kombinasi inflasi yang lebih jinak dan imbal hasil yang stabil biasanya menurunkan dorongan penguatan dolar terhadap mata uang kawasan, termasuk rupiah.
“Rupiah yang ditutup menguat ke Rp 16.602 per dolar AS pada Jumat berpeluang membuka pekan depan (27/10/2025) dengan kecenderungan menguat tipis namun tetap dalam rentang-susun tertentu,” ujar Josua, Sabtu (25/10).
Josua menambahkan, sentimen hubungan Amerika Serikat – China juga menjadi penentu arah rupiah awal pekan.
Agenda pertemuan pimpinan kedua negara yang sudah terkonfirmasi menjaga harapan kompromi sehingga selera risiko Asia membaik.
Dalam pandangan riset pasar, kedua pihak dinilai cenderung menuju kesepahaman, dan hal ini membatasi tekanan terhadap mata uang Asia.
Di saat yang sama, penetapan kurs rujukan yuan yang cenderung kuat membantu menjadi jangkar bagi pergerakan mata uang kawasan.
Josua menambahkan, dinamika regional akhir pekan menunjukkan kecenderungan stabil. Won Korea sempat menguat setelah otoritas memberi sinyal kesiapan langkah stabilisasi. Sedangkan baht Thailand ikut menguat.
“Isyarat kesiapan kebijakan di kawasan seperti ini lazimnya menahan pelemahan mata uang Asia pada pembukaan pekan, dan memberi waktu bagi rupiah untuk bergerak mengikuti arus selera risiko global,” terang Josua.
Sementara dari sisi sentimen domestik, Josua mengatakan bahwa faktor domestik memperkuat skenario rentang-susun dengan bias menguat.
Imbal hasil Surat Utang Negara tenor 10 tahun berada di sekitar 5,99?n secara bulan berjalan turun cukup dalam. Ini menandakan minat terhadap pasar obligasi Indonesia membaik.
Di sisi ekuitas, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat kenaikan bulan berjalan, sejalan dengan bursa global yang mayoritas menghijau pada pekan terakhir.
| TEKANAN Inflasi Global & Volatilitas Pasar Keuangan, OJK Catat Stabilitas Sektor Keuangan Masih Aman |
|
|---|
| LPS Datangi Kampus UNR Bareng OJK dan IDX, Bahas Investasi, Agar Mahasiswa Melek Literasi Keuangan! |
|
|---|
| UMKM Tak Hanya Penopang Ekonomi Tapi Penjaga Budaya Juga, BI Bali Lagi Buat Jagadhita VII Tahun 2026 |
|
|---|
| TANTANGAN Fluktuasi Kurs, Penguatan Berkelanjutan Kunci Masa Depan Industri Minuman Kemasan |
|
|---|
| OJK Terus Gencarkan Literasi, Inklusi dan Pelindungan Konsumen, Simak Ini Programnya di Bali |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/rupiah-dolar-wsvg.jpg)