Bisnis
DAGING Sapi Tembus Rp146.600 Per Kg, Harga Pangan Meroket Jelang Hari Raya, Beras Relatif Stabil
Lonjakan permintaan masyarakat ini mendorong kenaikan harga berbagai bahan pokok, terutama protein hewani dan cabai.
Harga sejumlah komoditas pangan masih bertahan tinggi pada pekan kedua Maret 2026. Kondisi ini terjadi meskipun pemerintah menyatakan stok pangan nasional dalam keadaan aman.
Meski harga sejumlah komoditas masih tinggi, pemerintah memastikan pasokan pangan nasional tetap aman.
Direktur Kewaspadaan Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) Nita Yulianis menegaskan masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan bahan pokok.
“Stok pangan saat ini cukup. Masyarakat tidak perlu panic buying karena pembelian berlebihan justru bisa mengganggu distribusi,” ujarnya.
Pemerintah, kata dia, terus menjaga stabilitas pasokan melalui berbagai program, salah satunya Gerakan Pangan Murah (GPM) yang digelar di berbagai daerah.
Di sisi lain, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi mulai memunculkan kekhawatiran baru karena berpotensi meningkatkan biaya distribusi dan mendorong harga pangan semakin mahal.
Ketua Dewan Pengurus Wilayah Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Ngadiran mengatakan harga ayam ras yang masih tinggi dipengaruhi sejumlah faktor, terutama distribusi dan keterbatasan pasokan bibit ayam atau day old chick (DOC) di tingkat peternak.
“Ada persoalan distribusi dan keterbatasan bibit ayam di peternak, sehingga harga masih tinggi. Pemerintah perlu menurunkan satgas agar harga tetap terkendali,” kata Ngadiran.
Ia juga menilai rantai distribusi pangan masih menyimpan praktik lama yang berpotensi memicu permainan harga di pasar.
Di sisi lain, kenaikan harga cabai rawit merah dipicu faktor cuaca. Curah hujan tinggi membuat sebagian petani menunda panen karena khawatir kualitas cabai menurun jika dipanen saat kondisi terlalu basah.
Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad menilai kenaikan harga energi hampir selalu diikuti kenaikan harga pangan karena biaya produksi dan distribusi ikut meningkat.
“Kalau harga energi naik, biasanya harga pangan ikut terdorong naik karena biaya logistik dan produksi meningkat,” ujar Tauhid.
Ia menjelaskan, kenaikan harga BBM akan meningkatkan biaya distribusi dari sentra produksi ke pasar. Dampaknya akan lebih terasa pada komoditas yang masih bergantung pada impor seperti kedelai, bawang putih, sebagian gula, serta beberapa jenis beras.
Selain faktor energi, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga berpotensi menambah tekanan harga pangan karena biaya pengadaan barang impor menjadi lebih mahal.
Di tengah ketidakpastian global, Tauhid menilai pemerintah perlu memperkuat strategi pengamanan pasokan pangan, termasuk melakukan diversifikasi sumber impor bagi komoditas yang masih bergantung pada pasar luar negeri.
Tanpa langkah antisipasi tersebut, tekanan harga pangan berisiko mendorong inflasi lebih tinggi dan menekan daya beli masyarakat, terutama pada masa Ramadan hingga menjelang Idulfitri ketika permintaan pangan biasanya meningkat. (kontan)
Daerah Diminta Gelar Pasar Murah
| JAMIN Harga Beras Stabil, Bulog Pastikan Tidak Ada Kenaikan, Tak Terpengaruh Biaya Kemasan Melonjak! |
|
|---|
| TRANSAKSI Kartu Kredit Tumbuh pada Kuartal I-2026, Simak Alasannya |
|
|---|
| Triwulan Pertama Rp71,449 M, Dispar Catat Realisasi Pungutan Turis Masuk Bali Periode Januari-Maret |
|
|---|
| Dukungan Permodalan BRI Dorong Pertanian Paprika Organik, Petani Lokal Mampu Tembus Pasar Premium |
|
|---|
| TRANSAKSI Local Currency Melonjak 163 Persen |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Pedagang-daging-sapi-segar-menata-dagangannya-di-pasar-tradisional-Senen-Jakarta.jpg)